Pandangan Perenialisme dalam Pendidikan IPA

Adapun pandangan perealisme dalam pendidikan IPA, penjalasan ini ini  dibagi menjadi; pandangan ilmu pengetahuan, tujuan pendidikan, prinsip-prinsip pendidikan, kurikulum, dan peran pendidik dan peserta didik. Berikut ini pemaparan tiap poin pandangan perenialisme dalam pendidikan IPA:

  1. Tentang Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh. (Sadulloh, 2003)

Jadi epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode deduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki (Syam, 1998)

Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsipprinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk menggadakan penyelesaian masalahnya.

  1. Tujuan Pendidikan IPA

Aliran perenialisme merupakan paham filsafat pendidikan yang menempatkan nilai pada supremasi kebenaran tertinggi yang bersumber pada Tuhan. Menurut Brameld, perenialisme pada dasarnya adalah sudut pandang dimana sasaran uang akan dicapai dalam pendidikan adalah “kepemilikan atas prinsip-prinsip tentang kenyataan, kebenaran, dan nilai yang abadi, tak terikat waktu dan ruang” (O’Neill, 2001). Karakteristik atau cara cara berpikirnya berakar dari filsafat realisme kaum Gereja. Aliran ini mencoba membangun kembali cara berfikir Abad Pertengahan yang meletakkan keseimbanganantara moral dan intelektual dalam konteks kesadaran spiritual.

Dengan menempatkan kebenaran supernatural sebagai sumber tertinggi, maka nilai dalam pandangan aliran perenialisme selalu bersifat theosentris. Ketika manusia mampu mencapai nilai-nilai yang dirujukan pada kekuasaan Tuhan, maka ia akan samapi pada nuilai universal. Nilai universal bersifat tetap dan kebenarannya diakui oleh semua manusia, dimanapun dan kapanpun. Karena itu menurut aliran perenialisme, penyadaran nilai dalam pendidikan harus didasarkan pada nilai kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari wahyu dan hal itu dilakukan melalui proses penanaman nilai pada peserta didik.

Pandangannya mengenai pendidikan dapat menjadi semakin jelas pada pendirian dan sikap perenialisme terhadap tujuan pendidikan sekolah. Dalam konteks pendidikan sekolah, tujuan pendidikan yang ditekankan adalah membantu anak untuk dapat menyingkap dan menginternalisasi kebenaran hakiki. Karena kebenaran hakiki ini bersifat universal dan konstan (tetap, tidak berubah), maka hal ini harus menjadi tujuan murni pendidikan.

Kebenaran hakiki dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, latihan intelektual (intellectual exercise) secara cermat untuk melatih kemampuan pikir. Kedua, latihan karakter (character exercise) untuk mengembangkan kemampuan spiritual (Suhartono, 2008)

  1. Prinsip-prinsip Pendidikan

Prinsip merupakan asas, atau aturan pokok. Jadi dalam hal ini yang dimaksud prinsip pendidikan adalah asas atau aturan pokok mengenai pendidikan dalam perenialisme. Dinamakan perenialisme karena kurilukumnya berisis materi yang bersifat konstan dan perenial. Mempunyai prinsip-prinsip pendidikan antara lain:

  1. Konsep pendidikan bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah.
  2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan manusia yang unik, yaitu kemampuan berfikir.
  3. Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.
  4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
  5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajan dasar (basic subject). (Tirtaraharja, 1998)

4. Kurikulum dan Metode Pendidikan IPA

Untuk mencapai tujuan sebagaimana dalam point di atas, maka kurikulum yang digunakan adalah yang berorientasi pada mata pelajaran (subject centered). Selanjutnya mengenai kurikulum, M. Noor Syam membedakan pandangan perenialisme dalam kurikulum sesuai dengan tingkatan pendidikan sebagai berikut :

Pendidikan Dasar

Bagi perenialisme, pendidikan adalah persiapan bagi kehidupan di dalam masyarakat. Dasar pandangan ini berpandangan pada ontologi, bahwa anak ada dalam fase potensialitas menuju aktualitas, selanjutnya menuju kematangan. Bagi Hutchins kurikulum tersebut ditanmbah lagi dengan sejarah, ilmu sastra dan sains. Namun kemudian ia merevisi idenya itu dengan menyatakan bahwa sebaiknya peserta didik di usia ini tideak disibukkan dengan ilmu sosial. Dengan demikian kurikulum utama pendidikan dasar hanyalah membaca, menulis, dan berhitung.

Pendidikan Menengah

Prinsip kurikulum pendidikan dasar, bahwa pendidikan adalah sebagai persiapan, berlaku pula bagi pendidikan menengah. Selanjutnya beberapa tokoh perenialisme menenkankan adanya kurikulum tertentu yang digunakan sebagai latihan berpikir (aspek kognitif) seperti bahasa asing, logika, retorika, dan lain sebagainya.

Perenialisme sangat menghargai kebudayaan masa lalu, untuk mempelajari budaya masa lalu para peserta didik periode ini diarahkan untuk mempelajari karya-karya besar tokoh klasik. Dengan mengadakan seminar, bedah buku, maupun diskusi.

Pendidikan Tinggi/Universitas

Pendidikan tinggi sebagai lanjutan dari pendidikan menengah mempunyai prinsip mengarahkan untuk mencapai tujuan kebajikan intelektual “the intellectual love of God”. Menurut Hutchins, pada tingkat ini diperlukan adanya lembaga penelitian (reseach institution). Ia juga menganjurkan adanya lembaga teknis untuk melatih masalah-masalah pendidikan kejuruan yang tetap menekankan pada pembinaan moral.

Pendidikan Orang Dewasa

Tujuan pendidikan orang dewasa ialah meningkatkan pengetahuan yang telah dimilikinya dalam pendidikan sebelumnya. Nilai utama pendidikan orang dewasa secara filosofis ialah mengembangkan sikap bijaksana, agar orang dewasa dapat memerankan perannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Serta sebagai jalan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan pada generasi selanjutnya (Syam, 1998)

  1. Peran Pendidik dan Peserta Didik

Secara definitif pendidik adalah orang yang bertanggung jawab dalam membentuk dan mengembangkan peserta didik sesuai dengan potensinya. Sedang peserta didik merupakan adalah orang yang sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis (Ramayulis, 2002).

Perenialisme memandang peserta didik sebagai makhluk rasional sehingga pendidik mempunyai posisi dominan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas, dan membimbing diskusi yang memudahkan peserta didik menyimpulkan kebenaran-kebenaran secara tepat. Untuk dapat melaksanakan tugas seperti itu, maka pendidik haruslah orang yang ahli di bidangnya, punya kemampuan bidang keguruan, tidak suka mencela ataumenyalahkan pemilik kewenangan, sebagai pendisiplin mental dan pemimpin moral dan spiritual.

Dalam proses belajar, lingkungan sekolah juga memiliki peran penting sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Muhaimin, bahwa sekolah merupakan wahana pelatihan intelektual, wahana alih intelektual dan kebenaran kepada generasi penerus (peserta didik), dan wahana penyiapan siswa untuk hidup.83 Aquinas mengemukakan bahwa tugas guru/pendidik ialah membantu perkembangan potensi-potensi yang ada pada anak untuk berkembang. Oleh karena itu harus ada potensi inherent pada diri pendidik tersebut.

Photo of author

Thoha Firdaus

Seorang yang suka mengajar, nulis di blog, buat video youtube, mencari hal yang baru.

Facebook Twitter Instagram Youtube

PENTING: Bantu kami memblokir iklan yang berbau sensitif dan pornografi dengan mengirimkan screenshot ke email: mail[et]thoha.id.

Tinggalkan komentar