Nama penulis adalah bagian paling mudah terlihat dari sebuah artikel ilmiah, tetapi justru di sinilah banyak persoalan etika bermula. Pertanyaan “siapa yang layak dicantumkan sebagai penulis?” hampir selalu muncul ketika sebuah naskah melibatkan lebih dari satu orang, dan jawabannya tidak pernah sederhana. Artikel ini membahas prinsip etika penulis yang bertanggung jawab serta kebijakan sederhana yang bisa diterapkan jurnal untuk menjaganya. Dalam konteks kampus, pertanyaan ini biasanya melibatkan mahasiswa, dosen pembimbing, dan peneliti lain yang terlibat dalam satu penelitian. Tanpa kesepakatan yang jelas sejak awal, naskah yang bagus pun bisa berakhir dengan konflik yang merusak hubungan akademik.
Empat syarat yang umumnya disepakati
Di tingkat internasional, banyak jurnal menjadikan kriteria dari International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) sebagai rujukan. Meski awalnya ditujukan untuk jurnal kesehatan, prinsipnya kini dipakai lintas disiplin ilmu. Seseorang pantas disebut penulis apabila memenuhi empat syarat berikut:
- Memberi kontribusi substansial pada konsep atau desain penelitian, pengumpulan data, atau analisis dan interpretasi data.
- Ikut menyusun atau merevisi naskah secara kritis, bukan sekadar membaca versi akhir.
- Menyetujui versi final naskah yang akan diterbitkan.
- Bersedia bertanggung jawab atas seluruh isi artikel.
Poin pentingnya: keempat syarat itu harus dipenuhi sekaligus. Bantuan kecil seperti mengoreksi ejaan, mengizinkan penggunaan data, atau sekadar mendukung penelitian secara moral tidak otomatis menjadikan seseorang penulis. Orang dengan peran seperti itu lebih tepat disebut kontributor dan bisa diucapkan terima kasihnya di bagian lain naskah.
Selain kriteria di atas, ada dua peran yang perlu dipahami: penulis pertama dan penulis korespondensi. Penulis pertama biasanya adalah pihak yang paling banyak terlibat dalam penelitian dan penulisan, sedangkan penulis korespondensi menjadi penghubung antara jurnal dan tim penulis selama proses penerimaan naskah. Kedua peran ini sebaiknya disepakati sejak awal, bukan ditentukan di menit-menit terakhir.
Masalah penulis artikel yang sering muncul di lapangan
Dalam praktiknya, editor dan pengelola jurnal kerap menemukan pola-pola berikut:
- Penulis kehormatan (gift atau honorary authorship): nama seseorang dicantumkan karena jabatan, relasi, atau balas budi, meskipun orang itu tidak berkontribusi nyata. Ini bentuk yang paling umum sekaligus paling berisiko.
- Penulis hantu (ghost authorship): orang yang sebenarnya banyak berkontribusi tidak dicantumkan sama sekali, misalnya penulis profesional yang diupah tanpa namanya muncul.
- Sengketa urutan penulis: perbedaan pendapat tentang siapa penulis pertama, penulis korespondensi, atau urutan nama yang tidak disepakati sejak awal.
- Penambahan nama secara tiba-tiba: nama ditambahkan di akhir proses, kadang tanpa sepengetahuan penulis lain, demi “memperkuat” peluang naskah diterima.
Masalah-masalah ini bukan sekadar soal nama di atas kertas. Ketika penentuan penulis tidak jujur, risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan pembaca dan lembaga pengindeks. Dalam kasus yang parah, artikel bahkan harus ditarik kembali melalui proses yang dikenal sebagai retraksi artikel — dan itu jauh lebih merugikan daripada menunda publikasi sejak awal. Di banyak jurnal, pola-pola seperti itu baru terdeteksi ketika penulis lain mengajukan keberatan setelah artikel terbit, atau ketika asesor menemukan ketidaksesuaian antara pernyataan kontribusi dan isi naskah. Pada titik itu, perbaikannya tidak pernah semudah mengganti nama di daftar penulis.
Mengapa jurnal perlu peduli
Jurnal adalah penjaga gerbang kualitas, dan kebijakan penentuan penulis merupakan bagian dari etika publikasi yang ikut dinilai dalam proses akreditasi. Asesor umumnya melihat apakah jurnal memiliki kebijakan tertulis tentang kontribusi penulis, penanganan sengketa, dan kesesuaian dengan standar etika internasional seperti Committee on Publication Ethics (COPE). Jurnal yang tidak memiliki kebijakan ini lebih rentan terhadap praktik yang merugikan, mulai dari penulis kehormatan hingga laporan pelanggaran etika yang berujung pada kendala dalam proses akreditasi.
Selain melindungi jurnal, kebijakan yang jelas juga melindungi penulis. Dengan aturan yang tertulis dan dikomunikasikan sejak awal, setiap pihak tahu persis apa yang diharapkan. Tidak ada lagi rasa dirugikan di akhir proses hanya karena nama seseorang ditambah, dihapus, atau dipindahkan urutannya tanpa kesepakatan.
Kebijakan sederhana yang bisa dimiliki setiap jurnal
Membangun kebijakan penentuan penulis tidak harus rumit dan tidak memerlukan sistem tambahan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dimulai jurnal kampus:
- Mewajibkan pernyataan kontribusi penulis (author contribution statement) pada naskah yang masuk — cukup satu paragraf singkat yang menjelaskan peran masing-masing penulis.
- Menegaskan bahwa penambahan, pengurangan, atau perubahan urutan penulis hanya boleh dilakukan dengan persetujuan semua penulis dan disampaikan kepada redaksi sebelum naskah diterbitkan.
- Meminta konfirmasi dari semua penulis bahwa mereka telah membaca dan menyetujui versi final naskah.
- Menyediakan jalur komunikasi redaksi yang jelas untuk pengaduan sengketa penulis, misalnya melalui alamat surel resmi jurnal.
Yang terpenting, kebijakan itu dibagikan sejak awal — dimuat dalam pedoman penulis, disampaikan saat naskah diterima, dan diingatkan kembali ketika artikel mendekati tahap terbit. Kebijakan yang baru dibicarakan setelah masalah muncul biasanya terlambat dan justru menimbulkan kesan redaksi tidak adil.
Untuk naskah yang sudah masuk, kebijakan ini bisa disampaikan secara persuasif, bukan menghukum. Tujuannya adalah mengedukasi penulis agar terbiasa dengan praktik penentuan penulis yang sehat, bukan membuat mereka takut mengirimkan naskah ke jurnal Anda.
Langkah kecil untuk memulai
Jika jurnal Anda belum memiliki kebijakan penentuan penulis, mulailah dari yang paling mudah: diskusikan dalam rapat redaksi, tuliskan dalam satu halaman, lalu tempelkan pada pedoman penulis. Pastikan pula editor dan staf redaksi memahami cara menyampaikan kebijakan ini dengan santun namun tegas, karena cara redaksi berkomunikasi sangat menentukan kenyamanan penulis.
Menentukan penulis secara adil bukan hanya melindungi penulis — ia melindungi reputasi jurnal dalam jangka panjang. Jurnal yang dikenal memperlakukan penulisnya secara adil akan lebih mudah menarik naskah berkualitas dan lebih dipercaya pembaca maupun lembaga pengindeks. Bagi pengelola jurnal kampus yang ingin membenahi kebijakan etika sekaligus alur penerimaan naskah, berdiskusi dengan mitra yang memahami dunia penerbitan ilmiah bisa menjadi langkah awal yang baik; pertimbangan dalam memilih mitra layanan OJS yang tepat akan sangat membantu.
Tinggalkan Balasan