Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya dipakai penulis untuk menyusun naskah. Di banyak jurnal, editor dan reviewer juga mulai memanfaatkannya — meringkas artikel pembanding, merapikan bahasa, mencari referensi yang terlewat, bahkan menyusun draf surel untuk penulis. Sayangnya, tidak semua penggunaan AI di meja redaksi aman dan etis. Tanpa batas yang jelas, alat yang dimaksudkan untuk membantu justru bisa merusak kepercayaan terhadap proses review.
Artikel ini membahas sisi non-teknisnya: kapan AI boleh membantu editor dan reviewer, batas apa yang tidak boleh dilewati, dan kebijakan sederhana seperti apa yang sebaiknya disiapkan jurnal. Bila Anda ingin melihat bagaimana proses editorial berjalan dari sisi penulis, tulisan tentang perjalanan naskah setelah submit bisa menjadi gambaran awalnya.
Manfaat yang Wajar: AI sebagai Asisten Redaksi
Sebagian pekerjaan redaksi bersifat berulang dan menyita waktu. Di sinilah AI paling banyak membantu. Editor, misalnya, bisa memakai AI untuk merangkum artikel pembanding agar lebih cepat menilai apakah sebuah naskah sesuai ruang lingkup jurnal, atau meminta bantuan menyusun draf surel pengingat reviewer yang sopan. Reviewer pun terbantu ketika AI dipakai memeriksa konsistensi istilah atau mencari referensi yang mendukung catatannya.
Kuncinya ada pada kata membantu. Selama hasil kerja AI selalu diperiksa, dikoreksi, dan disetujui oleh manusia yang bertanggung jawab, penggunaannya tidak jauh berbeda dari memakai kamus, penerjemah, atau alat pemeriksa bahasa. Masalah baru muncul ketika bantuan itu berubah menjadi pengganti penilaian.
Tiga Batas yang Tidak Boleh Dilewati
Ada tiga batas yang sebaiknya dipegang teguh oleh jurnal mana pun.
- Penilaian substantif tetap milik manusia. Menilai kebaruan, ketepatan metode, kedalaman analisis, dan etika penelitian butuh pemahaman konteks yang tidak dimiliki AI. AI bisa saja berhalusinasi atau menyampaikan kekeliruan dengan sangat meyakinkan, sehingga keputusan menerima, merevisi, atau menolak naskah tidak boleh diserahkan kepadanya.
- AI tidak bisa menjadi reviewer. Penulis berhak dinilai oleh pakar yang kompeten dan bertanggung jawab. Bila seorang reviewer menyerahkan tugas menelaah kepada AI tanpa sepengetahuan editor, hasilnya menyesatkan dan melanggar etika. Kalau AI dipakai sekadar alat bantu, pemakaiannya perlu diungkapkan.
- AI bukan satu-satunya dasar untuk keputusan penting. Dugaan plagiarisme, misalnya, tidak cukup disimpulkan dari angka kemiripan yang dihasilkan mesin; tetap diperlukan pembacaan manusia. Hal serupa berlaku untuk dugaan pelanggaran etis lainnya: AI bisa memberi sinyal, tetapi manusialah yang memutuskan.
Menjaga batas-batas ini bukan berarti anti-AI. Justru dengan batas yang jelas, AI bisa dipakai lebih leluasa tanpa membuat proses review kehilangan maknanya.
Kerahasiaan Naskah Lebih Penting daripada Kemudahan
Naskah yang sedang ditelaah adalah dokumen rahasia. Ketika editor atau reviewer menyalin naskah ke alat AI publik — sekadar untuk meringkas atau memoles bahasa — ada risiko naskah bocor, tersimpan di server pihak ketiga, atau dipakai untuk melatih model. Penulis yang idenya tersebar sebelum artikelnya terbit bisa dirugikan besar.
Sebagian alat menyediakan jaminan privasi, tetapi redaksi tetap perlu aturan yang jelas: alat mana yang boleh dipakai, data apa yang boleh dimasukkan, dan apa yang harus dilakukan bila terpaksa menggunakan layanan publik. Reviewer juga terikat kewajiban yang sama; menjaga kerahasiaan ini sejalan dengan etika reviewer jurnal yang sudah seharusnya dipahami setiap penelaah.
Editor sebaiknya mengingatkan hal ini secara berkala, bukan hanya sekali saat merekrut reviewer. Kebiasaan kecil seperti tidak menempelkan naskah ke alat sembarangan akan menjaga kepercayaan penulis dalam jangka panjang.
Kebijakan Sederhana yang Perlu Disiapkan Jurnal
Cara terbaik mengatur penggunaan AI di meja redaksi bukan dengan melarang total, melainkan dengan kebijakan tertulis yang singkat dan jelas. Kebijakan ini tidak perlu panjang dan tidak perlu teknis; cukup memuat beberapa hal pokok:
- pekerjaan yang boleh dibantu AI, misalnya merapikan bahasa, merangkum, dan menyusun draf korespondensi;
- pekerjaan yang tidak boleh diserahkan kepada AI, seperti menyimpulkan hasil telaah atau memutuskan nasib naskah;
- kewajiban mengungkapkan pemakaian AI (disclosure) oleh editor maupun reviewer;
- larangan memasukkan naskah ke alat AI publik tanpa jaminan kerahasiaan;
- penegasan bahwa manusia tetap bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan redaksi.
Bentuknya mirip dengan aturan pengungkapan konflik kepentingan yang sudah lazim di jurnal: tujuannya bukan mencurigai orang, melainkan menjaga transparansi dan kepercayaan. Rujukan etika seperti Committee on Publication Ethics (COPE) juga rutin membahas praktik AI dalam proses editorial, sehingga jurnal bisa menjadikannya acuan saat menyusun kebijakan.
Setelah kebijakan disusun, sampaikan kepada seluruh editor dan reviewer, lalu cantumkan di halaman etika atau panduan jurnal. Kebijakan yang hanya tersimpan di kepala editor tidak akan banyak menolong ketika kasus nyata muncul.
Kebijakan ini juga melindungi editor dan reviewer. Dengan aturan yang tertulis, tidak ada lagi kebingungan apakah sebuah langkah wajar atau melanggar: semua pihak bermain dengan pedoman yang sama. Ketika muncul pertanyaan atau perselisihan, redaksi pun punya acuan yang bisa dijelaskan dengan tenang. Dalam proses akreditasi, kebijakan etika yang terdokumentasi dengan baik juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi jurnal.
Penutup
AI adalah alat yang luar biasa, tetapi proses review yang adil dan tepercaya tetap dibangun oleh manusia: editor yang teliti, reviewer yang kompeten, dan kebijakan yang jelas. Jurnal yang menyiapkan aturan main sejak dini — termasuk soal AI — akan lebih mudah menjaga kredibilitasnya di mata penulis dan reviewer. Ekosistem publikasi yang sehat memang dimulai dari hal-hal kecil seperti ini.
Bagi pengelola jurnal yang sedang merumuskan kebijakan redaksi, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Ajak tim redaksi berdiskusi, tulis aturannya, dan terapkan secara konsisten. Dengan begitu, AI hadir sebagai asisten yang membantu, bukan pengganti penilaian yang seharusnya tetap manusiawi.
Tinggalkan Balasan