Daftar Isi 7
Artikel

Kebijakan Bahasa di Jurnal Ilmiah: Indonesia, Inggris, atau Dua-Duanya?

Naya Jurnal Ilmiah OJS
Ilustrasi kebijakan bahasa di jurnal ilmiah: dokumen abstrak bahasa Indonesia dan Inggris, dengan ikon ID-EN dan globe, ber-watermark sanguilmu.com

Setiap jurnal ilmiah pasti pernah menghadapi pertanyaan yang sama: naskah berbahasa apa yang sebaiknya diterima? Cukup bahasa Indonesia, harus bahasa Inggris, atau dua-duanya? Pertanyaan ini sering dianggap sepele, padahal jawabannya ikut menentukan siapa yang bersedia mengirim naskah, seberapa jauh artikel bisa ditemukan pembaca, dan bagaimana jurnal dinilai dalam proses akreditasi.

Masalahnya, banyak jurnal menjawab pertanyaan itu secara tidak tertulis. Satu edisi menerima abstrak bahasa Inggris, edisi berikutnya berubah kebiasaan, dan penulis harus menebak-nebak aturannya. Padahal kebijakan bahasa yang jelas adalah bagian dari layanan redaksi yang profesional. Kabar baiknya, kebijakan ini bisa disusun tanpa menyentuh sistem, plugin, atau hal-hal teknis apa pun.

Mengapa kebijakan bahasa perlu dituliskan

Kebijakan bahasa yang tertulis membuat semua pihak berada di halaman yang sama. Penulis tahu sejak awal bahasa naskah yang diterima dan bahasa abstrak yang wajib disertakan. Editor dan copyeditor tidak perlu menebak aturan setiap kali ada naskah masuk. Antar-edisi pun lebih konsisten: edisi Januari dan edisi Juli memperlakukan penulis dengan standar yang sama.

Kebijakan yang tertulis juga menjadi bukti bahwa jurnal dikelola dengan serius. Saat asesmen akreditasi dilakukan, asesor akan lebih mudah melihat bahwa redaksi memiliki aturan main yang rapi, bukan sekadar kebiasaan yang berubah-ubah.

Indonesia, Inggris, atau dua-duanya?

Tidak ada satu jawaban yang benar untuk semua jurnal. Pilihan bahasa sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan kapasitas redaksi.

Jurnal yang melayani penulis dan pembaca lokal, misalnya bidang pendidikan, kebudayaan, atau kebijakan daerah, akan terasa lebih ramah jika menerima naskah berbahasa Indonesia. Penulis pemula tidak perlu khawatir tersandung kendala bahasa sejak awal. Konsekuensinya, jangkauan pembaca internasional memang lebih terbatas.

Sebaliknya, jurnal berbahasa Inggris penuh membuka peluang lebih besar untuk ditemukan pembaca dan indeks internasional. Namun tuntutannya juga lebih tinggi: redaksi perlu memastikan kualitas bahasa benar-benar layak, entah melalui editor bahasa internal maupun bantuan penyunting profesional. Jika kapasitas ini belum siap, memaksakan bahasa Inggris penuh justru bisa merusak citra jurnal.

Jalan tengah yang paling umum dipakai jurnal di Indonesia adalah naskah berbahasa Indonesia dengan abstrak dwibahasa, atau sebaliknya. Cara ini memberi ruang bagi penulis lokal sekaligus menjaga jurnal tetap terbaca oleh audiens internasional. Yang terpenting, pilihlah satu pola yang realistis, tuliskan aturannya, dan jalankan dengan konsisten.

Abstrak dwibahasa: investasi kecil, dampak besar

Abstrak adalah bagian artikel yang paling sering dibaca dan paling sering dipindai oleh mesin pencari serta database. Abstrak berbahasa Inggris yang ditulis dengan baik membuka akses pembaca dari berbagai negara dan membantu artikel lebih mudah ditemukan di platform seperti Google Scholar, Garuda, maupun SINTA.

Karena itu, pastikan halaman indeks dan abstrak di website jurnal menampilkan abstrak dengan lengkap dan rapi. Cara sederhana menyajikannya — termasuk judul, penulis, dan kata kunci dalam dua bahasa — sudah pernah kami bahas pada artikel tentang halaman indeks dan abstrak artikel di website jurnal ilmiah.

Konsistensi istilah dan gaya

Selain memilih bahasa, redaksi perlu konsisten dalam menerjemahkan istilah. Misalnya, istilah “peer reviewer” boleh diterjemahkan menjadi “mitra bestari” atau tetap “reviewer”, tetapi sebaiknya dipilih satu dan dipakai di semua edisi. Istilah asing yang dipertahankan juga perlu konsisten penulisannya, begitu pula ejaan dan tanda baca.

Di sinilah gaya selingkung berperan. Gaya selingkung yang disepakati membantu editor dan copyeditor menjaga konsistensi bahasa dari satu naskah ke naskah lain, sehingga jurnal terlihat lebih rapi dan profesional. Jika belum memilikinya, panduan gaya selingkung untuk jurnal ilmiah bisa menjadi titik awal.

Cara redaksi menerapkannya tanpa ribet

Tuliskan kebijakan bahasa di halaman “Fokus dan Ruang Lingkup” atau “Panduan Penulis”: bahasa naskah yang diterima, bahasa abstrak yang wajib disertakan, batas jumlah kata abstrak, dan siapa yang bertanggung jawab menyunting bahasa. Sampaikan sejak awal agar penulis tidak kaget di tengah proses.

Saat penulis mengirim revisi, beri tahu dengan sopan jika abstrak terjemahannya perlu diperbaiki, dan berikan contoh yang singkat. Perlakuan yang jelas dan ramah seperti ini ikut membangun identitas jurnal sebagai tempat yang nyaman untuk menulis — bagian dari citra profesional yang dibangun redaksi.

Kebijakan bahasa juga menopang strategi visibilitas jurnal. Artikel dengan abstrak yang jelas lebih mudah ditemukan, dan itu selaras dengan upaya jurnal kampus membuka akses seluas-luasnya kepada pembaca.

Kaitannya dengan akreditasi

Pada penilaian akreditasi, kelengkapan metadata termasuk abstrak menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Abstrak berbahasa Inggris yang baik menjadi nilai tambah karena menunjukkan kesiapan jurnal dibaca secara internasional. Anda bisa melihat langsung bagaimana artikel jurnal diindeks melalui portal SINTA dan Garuda — coba cari salah satu artikel terbitan Anda, lalu periksa apakah abstraknya tampil lengkap dalam dua bahasa.

Mulai dari keputusan kecil

Kebijakan bahasa tidak harus rumit. Mulailah dari tiga keputusan sederhana: bahasa naskah yang diterima, bahasa abstrak yang wajib disertakan, dan istilah yang dipakai secara konsisten. Tuliskan keputusannya, bagikan kepada tim redaksi, dan perbarui ketika kebutuhan berubah.

Jurnal yang terlihat profesional sering kali lahir dari hal-hal kecil yang diurus dengan konsisten — termasuk bahasa. Jika jurnal Anda sedang merapikan kebijakan editorial dan ingin tampil lebih meyakinkan bagi penulis maupun asesor, pendampingan pengelolaan jurnal Sangu Ilmu siap membantu menyusunnya secara bertahap, dari panduan penulis hingga penyajian website.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *