Daftar Isi 6
Artikel

Checklist Kesiapan Akreditasi Jurnal: 5 Aspek Non-Teknis yang Sering Terlupakan

Naya Jurnal Ilmiah OJS
Ilustrasi clipboard berisi daftar periksa kesiapan akreditasi jurnal ilmiah dengan tanda centang dan stempel, bergaya flat design profesional

Akreditasi jurnal sering dibayangkan sebagai urusan dokumen, sistem, dan angka. Padahal, banyak aspek non-teknis yang justru menjadi penentu kelancaran penilaian — dan sayangnya justru sering terlupakan. Artikel ini mengajak pengelola jurnal, editor, dan reviewer melihat lima aspek non-teknis yang sebaiknya dicek jauh sebelum masa penilaian tiba.

Pengalaman di banyak jurnal kampus menunjukkan bahwa jurnal yang siap dinilai bukan hanya jurnal yang sistemnya rapi, tetapi juga yang kebiasaan kerjanya sehat. Aspek non-teknis memang tidak terlihat di berkas, tetapi mudah dirasakan oleh penulis, reviewer, dan asesor. Kabar baiknya, semua ini bisa disiapkan tanpa menunggu perangkat baru atau anggaran tambahan.

1. Konsistensi Kebijakan Redaksi dan Fokus–Ruang Lingkup

Asesor akan melihat apakah jurnal benar-benar menjalankan apa yang tertulis di kebijakannya. Kebijakan redaksi yang berubah-ubah antaredisi, fokus dan ruang lingkup yang tidak jelas, atau ketentuan yang hanya dipegang secara lisan akan menjadi catatan tersendiri. Padahal, konsistensi inilah yang membuat jurnal terlihat dewasa dan dapat dipercaya sejak halaman pertama dibuka.

Mulailah dengan menuliskan kebijakan secara singkat dan jelas: siapa yang boleh mengirim naskah, topik apa saja yang diterima, bagaimana proses penelaahan berjalan, dan bagaimana keputusan redaksi disampaikan. Pastikan seluruh anggota tim membaca kebijakan yang sama, sehingga penulis mendapat pengalaman yang konsisten dari edisi ke edisi. Keputusan soal bahasa artikel — Indonesia penuh, Inggris penuh, atau abstrak dwibahasa — juga bagian dari konsistensi ini, dan telah kami bahas dalam artikel tentang kebijakan bahasa di jurnal ilmiah.

2. Mutu Layanan kepada Penulis

Penulis adalah mitra jurnal, bukan sekadar pengirim naskah. Jurnal yang sehat menjawab email dengan sopan dan tepat waktu, memberi tahu status naskah tanpa perlu ditanya berulang kali, serta menyampaikan keputusan disertai alasan yang jelas. Bayangkan pengalaman penulis yang harus bertanya tiga kali hanya untuk mengetahui naskahnya sampai di mana — kesan itulah yang sering menjadi pembeda antara jurnal yang diminati dan jurnal yang ditinggalkan.

Buatlah janji layanan yang realistis, misalnya konfirmasi penerimaan naskah dalam beberapa hari kerja, lalu tepati. Sosialisasikan alur singkat kepada penulis sejak awal, dan tunjuk satu orang sebagai penanggung jawab komunikasi agar pesan tidak hilang di tengah kesibukan redaksi. Hal kecil seperti mengucapkan terima kasih atas naskah yang masuk juga jarang dilakukan, tetapi sangat diingat penulis. Pengalaman penulis yang baik membuat mereka kembali mengirim karya terbaiknya, dan itu memperkuat kualitas terbitan dari waktu ke waktu.

3. Profesionalisme Reviewer

Reviewer adalah pilar mutu jurnal. Yang dinilai bukan hanya kedalaman ulasan, tetapi juga ketepatan waktu, kesantunan, dan kejelasan rekomendasi. Ulasan yang membangun — spesifik, jujur, dan tidak merendahkan — akan meningkatkan kualitas naskah sekaligus kepercayaan penulis terhadap jurnal.

Editor yang baik membangun jaringan reviewer yang solid, menjaga komunikasi yang sehat, dan memastikan tidak ada konflik kepentingan antara reviewer dengan penulis. Rotasi reviewer secara wajar juga penting agar tidak ada nama yang kelelahan karena menerima terlalu banyak naskah dalam satu waktu. Strategi menyusun dan merawat jaringan reviewer dapat disimak dalam artikel kami tentang membangun jaringan reviewer yang solid.

4. Etika Publikasi dan Penanganan Pelanggaran

Etika adalah wilayah yang kerap baru diperhatikan ketika masalah muncul. Jurnal yang siap akreditasi memiliki sikap tertulis soal plagiarisme, kepengarangan, konflik kepentingan, dan dugaan pelanggaran lain — serta tahu langkah apa yang akan diambil jika hal itu terjadi.

Menentukan siapa yang layak menjadi penulis, misalnya, adalah keputusan etis yang sebaiknya dibahas sejak awal, bukan setelah naskah hampir terbit; prinsipnya dapat dibaca di artikel tentang etika penulis artikel jurnal. Kebijakan retraksi yang jelas juga menunjukkan kedewasaan jurnal dalam menjaga rekam jejak ilmiahnya, seperti dijelaskan dalam artikel tentang retraksi artikel. Pedoman etika dari lembaga internasional seperti COPE dapat menjadi rujukan yang baik untuk menyusun kebijakan ini, lengkap dengan contoh kasus yang sering terjadi di lapangan.

5. Kesiapan Data, Arsip, dan Kesan Profesional

Data jurnal yang rapi — metadata artikel, arsip terbitan dari edisi pertama, statistik pengunjung, dan keterangan indeks — mempermudah asesor sekaligus membantu calon penulis menilai kredibilitas jurnal. Ketika asesor membuka halaman jurnal, hal pertama yang mereka lihat bukan sistemnya, melainkan tampilan dan keteraturannya. Konsistensi penomoran volume, nomor, dan halaman antaredisi adalah detail kecil yang menumbuhkan kepercayaan jangka panjang.

Di sinilah kesan profesional turut berperan: halaman jurnal yang jelas, mudah dinavigasi, dan mencerminkan identitas yang kuat akan menumbuhkan kepercayaan. Keterbacaan ini juga mendukung pengindeksan di portal nasional seperti SINTA dan proses akreditasi ARJUNA.

Mulai dari Mana?

Pilih satu aspek yang paling lemah di jurnal Anda, diskusikan dalam rapat redaksi, dan tetapkan target sederhana untuk tiga puluh hari ke depan. Setelah satu aspek berjalan, lanjutkan ke aspek berikutnya. Cara seperti ini terasa lebih ringan daripada mengejar semua hal sekaligus menjelang penilaian.

Lima aspek di atas tidak menuntut sistem baru atau biaya besar — semuanya soal kebiasaan dan komitmen tim. Bagi pengelola jurnal yang ingin memastikan sisi non-teknis ini tertata sambil membangun tampilan dan alur kerja yang mendukung, Sangu Ilmu menyediakan tema jurnal dan pendampingan pengelolaan jurnal ilmiah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kampus. Dengan kebiasaan yang sehat sejak sekarang, akreditasi bukan lagi momen yang menegangkan, melainkan konfirmasi atas kerja keras yang sudah dijalani sehari-hari.