Daftar pustaka yang tampak rapi bisa menipu. Nama penulisnya terdengar meyakinkan, tahun terbitnya wajar, nama jurnalnya bereputasi — sampai seseorang mencoba mencari artikelnya dan tidak menemukannya. Bukan salah ketik dan bukan keliru menuliskan nomor halaman: sumber itu memang tidak pernah ada.
Semenjak alat kecerdasan artifisial (AI) generatif makin sering dipakai untuk membantu pekerjaan tulis-menulis akademik, kejadian semacam itu ikut bertambah. Tulisan ini tidak membahas langkah teknis memakai AI, melainkan satu hal yang menentukan kredibilitas: kebiasaan memeriksa sumber sebelum sumber tersebut masuk ke tugas, skripsi, atau naskah jurnal. Kebiasaan ini sebetulnya satu keluarga dengan kebiasaan lama yang sudah kita kenal, yaitu memverifikasi informasi sebelum membagikannya — hanya saja kali ini yang diperiksa adalah daftar rujukan.
Mengapa AI Bisa “Mengarang” Referensi
Model bahasa menyusun kalimat dengan memperkirakan kata yang paling mungkin menyusul. Cara kerja itu membuat tulisannya lancar dan terdengar masuk akal, tetapi tidak menjamin isinya benar-benar ada di dunia nyata. Ketika diminta menyusun daftar rujukan, model tidak menelusuri rak jurnal. Ia merangkai pola yang lazim muncul dalam daftar pustaka: nama penulis yang terdengar cocok, judul yang selaras dengan topik, dan nama jurnal yang terdengar kredibel.
Karena dirangkai dari pola, rujukan karangan sering tampak wajar. Sebuah kajian yang menguji 13 model AI menemukan bahwa semua model yang diuji menghasilkan sitasi palsu, dengan rentang sekitar 14% sampai 95% bergantung pada model, bidang, dan cara pertanyaannya (GhostCite). Kajian lain yang menghasilkan 74.196 daftar rujukan dengan sembilan model menemukan bahwa pada salah satu percobaan, tidak ada satu pun rujukan yang benar-benar nyata (Data, 2026).
Ciri Rujukan yang Perlu Dicurigai
- Terlalu pas dengan kebutuhan Anda: judulnya persis menjawab kalimat yang sedang Anda tulis.
- Kombinasi penulis terkenal dan jurnal terkenal yang sulit ditelusuri keberadaannya.
- DOI atau tautan tidak mengarah ke artikel yang dimaksud, dan sering berakhir di halaman “tidak ditemukan”.
- Data bibliografinya janggal: volume, nomor terbitan, atau halaman kosong, atau tahun terbit tidak cocok dengan penerbitnya.
- Gaya penulisan sitasinya bercampur, tanda daftar itu disusun dari tempelan beberapa sumber tanpa diperiksa.
- Abstraknya terdengar umum, tidak menyebut data, metode, atau temuan yang spesifik.
Cara Memeriksa Sumber dalam Beberapa Menit
Pemeriksaan rujukan tidak memerlukan keahlian khusus. Yang dibutuhkan hanya ketekunan beberapa menit untuk setiap sumber yang penting.
- Cari judulnya persis seperti tertulis, bukan hanya potongan kalimatnya. Laman jurnal resmi, perpustakaan kampus, dan mesin pencari akademik biasanya cukup untuk memastikan keberadaan sebuah artikel.
- Buka halaman artikelnya, bukan hanya daftar hasil pencarian. Pastikan penulis, tahun, dan jurnalnya sama seperti yang Anda kutip.
- Periksa DOI-nya di laman resmi penyedia DOI. Bila nomor tersebut tidak terdaftar atau mengarah ke tulisan lain, jangan dipakai.
- Baca abstraknya sepintas. Rujukan yang benar tetapi tidak berkaitan dengan klaim Anda tetap merusak argumen.
- Simpan bukti: berkas atau tautan resmi beserta tanggal akses, agar Anda tidak perlu mencari ulang saat menyusun naskah akhir.
- Bila setelah beberapa cara sumbernya tidak ditemukan, tinggalkan. Mengganti satu rujukan jauh lebih murah daripada mempertahankannya.
Kenapa Ini Bukan Perkara Sepele
Rujukan karangan bukan hanya masalah satu mahasiswa atau satu penulis. Sebuah audit atas 111 juta rujukan dari sekitar 2,5 juta artikel di arXiv, bioRxiv, SSRN, dan PubMed Central menemukan lonjakan rujukan yang tidak ada setelah AI generatif menyebar luas, dengan perkiraan konservatif 146.932 sitasi halusinasi pada 2025 saja (arXiv, 2026). Analisis pemberitaan Nature juga memperkirakan puluhan ribu publikasi sepanjang 2025 memuat rujukan yang tidak valid (Nature).
Yang membuatnya berbahaya adalah efek menumpuknya. Rujukan palsu yang sudah muncul di beberapa artikel akan tampak makin kredibel, dan pembaca berikutnya bisa mengutipnya tanpa memeriksa. Kesalahan kecil pun menyebar menjadi kebiasaan.
Bagi penulisnya, risiko itu berlapis. Naskah bisa ditolak atau ditarik, reputasi ikut terganggu, dan dalam kasus tertentu persoalannya berubah menjadi dugaan kelalaian serius. COPE menegaskan bahwa penulis bertanggung jawab penuh atas seluruh isi naskah, termasuk bagian yang dibantu AI, dan AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis. Sebagian pengamat etika bahkan berpendapat bahwa pada artikel tinjauan atau kajian bibliometrik — ketika sitasi berfungsi sebagai data — rujukan karangan berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran integritas riset. Perlu diingat pula bahwa naskah tidak berhenti di editor: setiap rujukan akan dibaca orang lain, kadang bertahun-tahun setelah Anda lulus. Perjalanan naskah setelah diklik “submit” menjelaskan mengapa jejak itu panjang.
Kebiasaan Kecil yang Menyelamatkan Naskah
- Pisahkan peran: pakai AI untuk merapikan bahasa, menyusun kerangka, atau meminta penjelasan konsep; ambil sumber dari basis data resmi.
- Kutip hanya yang benar-benar Anda baca. Sumber yang hanya “muncul” di jawaban AI belum pernah Anda baca.
- Periksa sebelum menulis, bukan sesudah. Kalimat yang dibangun di atas rujukan palsu harus ditulis ulang.
- Catat jejak sejak awal: dari mana sumber ditemukan, kapan diakses, dan di mana salinannya Anda simpan.
- Beri tahu pembimbing atau rekan penulis bila Anda memakai bantuan AI, lalu tunjukkan sumber aslinya.
Kebiasaan-kebiasaan itu sederhana, tetapi berdampak besar. Sama seperti membiasakan memeriksa informasi membuat grup percakapan kampus lebih tenang, membiasakan memeriksa rujukan membuat karya Anda bisa dipertanggungjawabkan.
Peran Dosen, Pembimbing, dan Pengelola Jurnal
Masalah ini paling murah dicegah di ruang kelas dan ruang bimbingan. Kesepakatan sederhana tentang batas penggunaan AI, kewajiban menyebutkan bantuan yang dipakai, dan satu pertanyaan rutin — “mana sumber aslinya?” — sudah mengubah perilaku mahasiswa.
Di jurnal, editor dan reviewer berada di garis depan. Mereka perlu mengingatkan penulis lewat panduan, memeriksa keberadaan sumber pada naskah yang meragukan, dan terbuka membahas batas etis penggunaan AI. Ketika editor dan reviewer memakai AI, kebijakan yang jelas menjadi penopang, bukan formalitas. Bagi pengelola jurnal, topik ini memang bagian dari tata kelola yang serius; pembahasan lebih luas tersedia di kategori Jurnal Ilmiah.
Penutup
AI tetap berguna. Ia membantu kita melihat kerangka, menajamkan bahasa, dan menemukan pertanyaan yang belum terpikirkan. Yang tidak bisa didelegasikan adalah pemeriksaan. Rujukan yang benar dan dapat ditelusuri adalah bentuk jujur dari sebuah tulisan ilmiah: bukti bahwa penulisnya benar-benar membaca, bukan sekadar menerima jawaban yang terdengar meyakinkan.
Kalau ragu, cari. Kalau tetap tidak ketemu, tinggalkan. Dua langkah kecil itu menjaga lebih banyak hal daripada yang sering kita sadari.