DOI artikel ilmiah sering dianggap sekadar deretan angka di bawah judul, padahal ia adalah alamat tetap yang memudahkan pembaca menemukan artikel Anda, kapan pun dan di mana pun. Bagi dosen, mahasiswa, maupun pengelola jurnal, memahami cara memeriksa dan menuliskan DOI dengan benar akan menghemat waktu dan mencegah kesalahan sitasi yang sebenarnya mudah dihindari.
Apa Itu DOI dan Mengapa Penting
Menurut DOI Foundation, DOI (Digital Object Identifier) adalah pengenal permanen untuk sebuah objek, termasuk artikel jurnal. Bentuknya terdiri atas awalan dan akhiran yang dipisahkan garis miring, misalnya 10.1000/182, dengan 10.1000 sebagai awalan dan 182 sebagai akhiran.
Keunggulan utamanya adalah kestabilan. Alamat halaman web sebuah artikel bisa berubah ketika jurnal pindah situs atau mengganti sistem, tetapi DOI tetap sama. Yang diperbarui hanyalah data di baliknya, sehingga pembaca selalu diarahkan ke lokasi terbaru artikel.
Bagi penulis, DOI yang tertulis benar membuat artikel lebih mudah dirujuk dan ditelusuri oleh peneliti lain. Bagi mahasiswa, DOI membantu dosen pembimbing atau penguji memastikan sumber yang dikutip benar-benar ada. Karena fungsinya sederhana tetapi berdampak besar, kebiasaan memeriksa DOI layak dijadikan bagian tetap dari proses penulisan, sama seperti memeriksa ejaan atau format tabel.
Cara Membaca Struktur DOI
Awalan DOI umumnya mengidentifikasi lembaga yang mendaftarkan, misalnya penerbit atau jurnal, sedangkan akhiran mengidentifikasi artikelnya. Karena itu, dua artikel dari jurnal yang sama biasanya memiliki awalan yang sama dan akhiran yang berbeda. Satu karakter yang salah ketik sudah cukup untuk membuat tautan gagal terbuka, jadi ketelitian sangat diperlukan.
Menulis DOI dalam Bentuk Tautan yang Benar
Berdasarkan pedoman tampilan DOI dari Crossref, DOI sebaiknya ditampilkan sebagai tautan lengkap berbentuk https://doi.org/10.xxxx/akhiran. Pedoman itu juga menyarankan agar tidak memakai awalan “doi:” atau “DOI:” yang diikuti spasi lalu angka tanpa tautan, tidak menampilkan DOI sebagai teks mati, dan tidak lagi memakai bentuk dx.doi.org untuk konten baru. Tautan lama tetap berfungsi, sehingga tidak perlu panik bila artikel lama masih memakai format tersebut.
Sebagian gaya sitasi, misalnya APA edisi ke-7, sudah memakai bentuk tautan lengkap ini. Bila Anda memakai aplikasi pengelola referensi, periksa hasil akhirnya, karena kadang awalan https://doi.org/ muncul ganda atau hilang.
Langkah Memeriksa DOI pada Daftar Pustaka
Daftar pustaka naskah sebaiknya diperiksa sebelum dikirim ke jurnal. Berikut urutan yang praktis:
- Klik atau tempel setiap DOI di peramban dan pastikan halaman yang terbuka memang artikel yang dimaksud.
- Cocokkan judul, nama penulis, tahun, dan nama jurnal di halaman tujuan dengan yang tertulis di daftar pustaka.
- Bila DOI tidak ada, cari artikelnya lewat Crossref Metadata Search menggunakan judul atau nama penulis, lalu salin DOI dari hasil yang cocok.
- Bila DOI tidak bisa dibuka atau tidak cocok, jangan menebak. Telusuri artikelnya di situs jurnal, dan bila tetap tidak ditemukan, pertimbangkan mengganti sumber tersebut.
- Seragamkan seluruh DOI ke bentuk tautan lengkap agar daftar pustaka konsisten.
Pemeriksaan ini juga membantu mengungkap rujukan yang sumbernya diragukan. Kebiasaan serupa kami bahas dalam tulisan tentang AI yang mengarang sumber, sedangkan untuk merapikan data referensi Anda bisa memanfaatkan Zotero.
Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
Kesalahan pertama adalah salah salin. DOI kerap terpotong ketika disalin dari berkas PDF, terutama jika baris baru memisahkan awalan dari akhirannya, atau ketika tanda titik di akhir kalimat ikut tersalin. Hasilnya, tautan terlihat benar tetapi tidak membawa pembaca ke mana pun.
Kesalahan kedua adalah menukar DOI dengan alamat web biasa. Alamat halaman bisa berubah, sedangkan DOI dirancang tetap. Bila sebuah artikel punya DOI, gunakan DOI itu dalam daftar pustaka, bukan alamat halaman yang panjang dan mudah usang.
Kesalahan ketiga adalah mengira semua rujukan pasti punya DOI. Banyak sumber, terutama yang lama atau yang diterbitkan di luar sistem DOI, memang tidak memilikinya. Dalam kasus itu, ikuti ketentuan gaya sitasi yang dipakai jurnal tujuan dan jangan mengarang DOI demi terlihat lengkap.
Catatan untuk Pengelola Jurnal
Bagi redaksi, DOI adalah bagian dari kredibilitas jurnal. Pastikan DOI tampil di halaman artikel, di bagian “cara mengutip”, dan di data yang dikirim ke penyedia indeks. Jika jurnal Anda memakai OJS dan ingin mendaftarkan DOI sendiri, panduan deposit DOI di OJS 3.4 ke Crossref dapat menjadi titik awal. Penulis pun akan lebih mudah dikenali bila memiliki ORCID iD yang tercantum bersama artikelnya.
Bila Anda membutuhkan bantuan menyesuaikan tampilan dan pengaturan situs jurnal, tersedia layanan kostumisasi Open Journal System (OJS) yang bisa dipertimbangkan.
Langkah Praktis yang Bisa Dimulai Hari Ini
Mulailah dari yang kecil dan konsisten, karena kerapian referensi dibangun dari kebiasaan, bukan dari satu kali perbaikan besar.
Ambil satu naskah atau tugas akhir yang sedang Anda tulis, lalu buka setiap DOI di daftar pustakanya. Perbaiki yang salah, lengkapi yang kosong, dan ubah semuanya menjadi tautan lengkap. Dalam beberapa menit, daftar pustaka Anda akan lebih rapi, lebih mudah diverifikasi pembaca, dan lebih meyakinkan bagi editor maupun reviewer.
Tinggalkan Balasan