Pujian dan Sanjungan adalah Musibah

English: A warning sign with an exclamation mark

Sahabat, seringkali kita menjumpai sebuah sanjungan ataupun pujian orang untuk kita, apa yang kita rasakan?? Merasa banggakah? Apa sahabat tau bahawasanya itu semua sebuah musibah bagi kita, ya.. apa lagi sanjungan dan pujian itu dilontarkan dihadapan kita langsung. Makruhnya memuji di muka orang yang dipuji jikalau dikhawatirkan timbulnya kerusakan padanya seperti menimbulkan rasa bangga pada diri sendiri dan sebagainya, tetapi Jawaz (yakni boleh) bagi seseorang yang aman hatinya dari perasaan yang sedemikian itu jikalau menerima pujian pada dirinya.

“Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli”.(HR. Ad-Dailami)
Buta dan tuli dalam hal ini berarti merasa bangga terhadap dirinya sehingga tidak mau menerima saran dan kritik yang harusnya dapat membangun dirinya menjadi labih baik. Dia akan selalu merasa bahwasanya dia selalu benar. Na’udzubillahimindzalik..
Dari Abu Musa r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mendengar seorang lelaki memuji pada lelaki lain dan mempersangatkan (berlebih-lebihan) dalam memujinya itu, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Engkau telah merusakkan orang itu atau engkau telah mematahkan punggung orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Oleh karena itu sahabat, berhati-hatilah bila ingin memuji orang dan bila di puji orang. Kuatkan terus iman kita bahwa hanya Allah lah yang patut kita puji, selalu berdzikir memuji Allah itu lebih besar keutamaanya.
Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Amal yang diperbuat anak Adam tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah selain dzikir kepada Allah.” Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Thabrani dengan sanad hasan.

Cara Memasukkan Tulisan Arab ke dalam WordPress

Untuk agan yang membutuhkan tulisan arab dari Al-Qur’an dan Hadits di wordpress, kadang kala bila mau mencopy kedalam postingan sering kali tulisan tidak muncul bahkan malah tulisan berubah menjadi kode-kode yang tidak jelas. Ok langsung saja cara memunculkan tulisan arab dalam worpress yaini sebagai berikut:

1. Dalam halaman possting, sebelum memasukkan tulisan arab ubah dulu  Visual kedalam Teks terlebih dahulu (tombolnya ada di sebelah kanan pojok atas posstingan).

2. copy-paste code berikut ini kedalam possting:

<div style=”font-family: ‘traditional arabic’; font-size: 33px; font-weight: bold; text-align: right;”> HURUF ARAB</div>

3. Untuk tulisan “HURUF ARAB” (tulisan warna merah) diganti dengan huruf arab yang agan copy.

4. Kemudian rubah Teks ke dalam Visual setelah itu terbitkan.

NB: Anda juga bisa merubah :

  • Jenis huruf (font family)
  • Ukuran huruf (font size)
  • Ketebalan huruf (font weight) = bold, normal, dan italic
  • posisi huruf (text align) = right, left, center

Semoga bermanfaat ya..

Masalah Pemuda-Pemudi

Masalah Pemuda-Pemudi |Pemuda-pemudi sekarang bisa dibilang sudah mempunyai zaman yang berbeda dengan pemuda-pemudi zaman dahulu (termasuk admin yang juga masih muda,,he), yang dimasud adalah pemikiran mereka, ya bisa dibilang sudah modern. Pergaulan dengan lawan jenis pun seperti tak ada batas sama sekali, gaya pergaulan mereka yang begitu fulgar di depan umum yang seolah-olah ingin membuat iri kepada setiap orang yang malihatnya. Ini tak ubahnya karena pengaruh globalisasi yang sangat begitu cepat berkembang, termasuk yang berperan penting adalah perkembangan teknologi. Kita tau sendiri, dizaman sekarang pemuda mana yang tidak mempunyai ponsel?, bahkan ponsel sudah merupakan salah satu kebutuhan primer, apalagi di lingkup dunia mahasiswa. Tak hanya itu perkembangan teknologi yang lain juga sangat berpengaruh penting, seperti internet yang setiap saat orang bisa akses semua jejaring dengan mudah dan murah. Film juga sangat berpengaruh besar dalam perubahan kepribadian seseorang, dari gaya berpakaian, rambut, tingkahlaku bahakan pergaulan-pergaulan lainya.

Bila di bahas lebih mendalam perubahan yang cukup berpengaruh besar adalah mengenai pergaulan mereka, pergaulan dengan lawan jenis yang bukan mukhrimnya sudah tidak tak asing lagi dikalangan muda zaman sekarang. Membahas masalah perasaan khususnya, itulah isi dalam fikiran mereka (perasaan yang maksud dalam pembahasan ini adalah perasaan dalam tanda kutip). Yang manjadi pertanyaan adalah memang tujuan hidup di dunia ini hanya mencari jodoh? Ya, itu lah jawaban bagi mereka yang belum cukup dewasa untuk berfikir, banyak kasus-kasus bunuh diri dari kalangan pemuda/pemudi dikarenakan hanya masalah pribadi yang sepele ini. Sungguh sangat meruginya bila hidup hanya memikirkan masalah perasaan, seolah-olah tugas lain seperti ibadah, kerja, kuliah, atau yang lainya adalah nomor yang terahir.

Cobalah berfikir lebih dewasa wahai pemuda-pemudi, boleh saja memikirkan perasaan, tapi ada batasnya, bahkan ada waktunya itu akan muncul sendiri dengan berjalan seiring waktu.

Shalat Mencegah dari Perbuatan Keji dan Munkar

Shalat Mencegah dari Perbuatan Keji dan Munkar |

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.. (QS. Al ‘ankabuut::45)

Salah satu penggalan surat yang sudah tidak asing lagi di kalangan umat muslim dan sudah sering mendengar kajian tentang pembehasan dalam surat tersebut, saat ini admin coba kembali buka ingatan-ingatan tentang pembahasan ayat tersebut, karena ayat ini sangat amat penting untuk kita pahami dan mengerti terutama pada setiap umat muslim.

Dijelaskan bahwasanya shalat lah yang mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dapat diartikan bahwa shalat lah yang menjadi benteng atau tameng atau penasihat. Memang betul dilihat dari shalat lah kita tau bahwa orang tersebut baik atau buruk. Tapi mengapa realitas yang tidak sedikit terjadi bahwasanya banyak orang-orang yang sudah shalat tetapi masih saja melakukan perbuatan-perbuatan keji dan munkar, masih melakukan kemaksiatan dan lain sebagainya.

Abul Aliyah berkata : di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu:

  1.  Ikhlas,

Keiklasan melakukan idabah adalah kunci untuk mendapatkan amal, apabila tak ada unsur keihklasan Allah tak akan memberikan amal yang sempurna, didalamnya pun ada unsur pembentuk kepribadian, sehingga menjadikan manusia yang mempunyai akhlak yang iklas dalam melakukan kegiatan.

  1.  Khosyah ( takut )

Coba bayangkan apabila mendapati sesuatu yang menakutkan apakah yang diperbuat? Tentunya akan mencoba menjahui sesuatu yang menakutkan tersebut, akan tetapi berbeda bila kita takut kepada Allah, bukan kemudian lari atau kabur, justru harus lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah. Semakin kita takut kepada Allah seharusnya semakin kita mendekatkan diri, sadari bahwa Allah yang Maha Besar dan sepatutnya manusia merasa merendah kepada-Nya, begitulah juga diwaktu shalat.

  1. Dzikrullah ( ingat kepada Allah ).

Dengan ingat kepada Allah berarti terfokuslah bahwa ibadah ditunjukkan hanya kepada Allah semata, bukan shalat karna yang lain tetapi yang benar adalah karna Allah.

 Maka jika tiap sholat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut sholat. Karena dengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akan mencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’ruf dan mencegah mungkar.

 Mari ditilik kembali apakah shalat kita sudah sesuai dengan ketentuan syariat islam? Bila belum maka mari kita lakukan mulai dari sekaran.

“Allah Memberi yang Kita Butuhkan”

Hoo allah muhammad“Allah kadang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan”. Kalimat yang sudah sering bahkan sudah tidak asing lagi. Kapan kita meminta organ tubuh kita yang sempurna ini kepada Allah? Tangan, kaki, mata, telinga, hidung, mulut semua diberikan gratis dan tanpa dipungut biaya sepersenpun. Allah berikan ukuran-ukuran yang sesuai dengan kebutuhan, apakah iya kita meminta Allah dengan kata-kata “Ya Allah ku inginkan gigi ini yang kuat dengan jumlah 32 dengan ukuran panjang  5ml dan lebar 3ml per butir dengan berat 0,1gr”? sungguh Maha besar Allah yang memberikan kesempurnaan tanpa kita meminta, kapankan kita bersyukur dengan keadaan ini?sudah berapakali kita sombong dengan tingkah yang kita lakukan, dengan semua yang kita miliki? Harusnya ada kesadaran bahwa semua yang kita miliki ini milik Allah.

Lantas dengan apa kita membalas semua ini kepada Allah? Apa iya mau memberi barang yang kita punya? Uang, motor, mobil, bunga, rumah, pakaian. Ketahuilah Allah tak butuh itu, itu semua milik Allah. Sebetulnya kita tak punya apa-apa di dunia ini, semua barang-barang, prabotan semua milik Allah. Dan sesungguhnya yang Allah inginkan hanyalah bertakwa kepada-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjahui semua larangan-Nya, sungguh simpel kan? Hanya itu saja. Semua petunjuk-petunjuk sudah tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits, kurang apa coba? Lantas setelah kita taat pada-Nya kita dimasukkan dalam syurga-Nya, yang semua kita inginkan ada disana. Sungguh begitu murah hati-Nya Allah.

Apa yang sudah kita lakukan sekarang? Sudah menjadi manusia berakwakahah? Jika belum mari kita lukan dari sekarang, jangan sia-siakan mumpung masih hidup, kita tak tau kapan mati.

Beriman dan Istiqomah

Beriman dan Istiqomah |Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, aku berkata: wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ucapkanlah: “aku beriman kepada Allah”, kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu” (HR. Muslim, no. hadits: 38)

Beberapa Masalah Penting yang Terkandung Dalam Hadits Ini:

  • Pertama:

Besarnya semangat para Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanyakan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, dan tujuan mereka dalam menanyakan hal-hal tersebut adalah benar-benar untuk mengilmui (mengetahui) dan mengamalkannya, bukan hanya semata-mata untuk pengetahuan, karena ilmu yang tidak dibarengi amal adalah seperti pohon yang tidak memiliki buah, Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hamba-hambaNya yang bertakwa:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya” (QS Muhammad:17)

Imam Al Khatib Al Baghdadi berkata: Seorang penuntut ilmu hendaknya menjadikan urusan-urusan kehidupannya berbeda dengan kebiasaan orang-orang awam, dengan selalu berusaha mengamalkan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (dalam setiap urusannya) semaksimal mungkin dan menerapkan sunnah-sunnah Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dirinya, karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzaab: 21)

  • Kedua:

Iman kepada Allah ‘azza wa jalla mencakup semua hal yang wajib diyakini dalam landasan dan pokok-pokok keimanan dari apa-apa yang Allah ‘azza wa jalla beritakan tentang diri-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk,yang disertai dengan amalan-amalan dalam hati, ketaatan dan ketundukan yang sepenuhnya lahir dan batin kepada Allah ‘azza wa jalla.

  • Ketiga:

Keharusan untuk tetap istiqomah dalam keimanan sampai di akhir hayat, dan makna istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling darinya ke kiri maupun ke kanan, dan ini semua mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah ‘azza wa jalla) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (hal. 510). Dan perintah untuk beristiqomah disebutkan dalam banyak ayat Al Quran, di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat: 30), dan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS. Al Ahqaaf: 13-14)

Akan tetapi, bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin dapat terus-menerus sempurna dalam istiqomah, karena bagaimana pun manusia tidak akan luput dari kesalahan dan kelalaian yang menyebabkan berkurangnya nilai keistiqomahannya, oleh karena itu Allah ‘azza wa jalla memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa untuk mengatasi keadaan ini dan memperbaiki kekurangan tersebut, yaitu dengan beristigfar (meminta ampun kepada Allah ‘azza wa jalla) dari semua dosa dan kesalahan, Allah berfirman:

“Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya” (QS. Fushshilat: 6), dan istigfar di sini mengandung pengertian bertaubat dan kembali kepada keistiqamahan. Dan ayat ini semakna dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: kepada Mu’adz bin Jabal radhiallohu ‘anhu: “Bertakwalah kepada Alloh di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 5/153, dan At Tirmidzi no. hadits 1987) Ibid.

penulis: Ustadz Abdullah Taslim

 

 

 

Dua orang saling membunuh yang masuk syurga

Dan dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala tertawa (merasa senang) kepada dua orang yang seorang membunuh pada lainnya, kemudian keduanya dapat memasuki syurga. Yang seorang itu berperang fisabilillah kemudian ia dibunuh, selanjutnya Allah menerima taubat atas orang yang membunuhnya tadi, kemudian ia masuk Islam dan selanjutnya dibunuh pula sebagai seorang syahid.” (Muttafaq ‘alaih)

Taubatnya wanita pezina

Dari Abu Nujaid yaitu Imran bin Hushain al-Khuza’i radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada seorang wanita dari suku Juhainah mendatangi Rasulullah s.a.w. dan ia sedang dalam keadaan hamil karena perbuatan zina. Kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu perbuatan yang harus dikenakan had (hukuman) maka tegakkanlah had itu atas diriku.” Nabiyullah s.a.w. lalu memanggil wali wanita itu lalu bersabda: “Berbuat baiklah kepada wanita ini dan apabila telah melahirkan -kandungannya, maka datanglah padaku dengan membawanya.” Wali tersebut melakukan apa yang diperintahkan. Setelah bayinya lahir -lalu beliau s.a.w. memerintahkan untuk memberi hukuman, wanita itu diikatlah pada pakaiannya, kemudian dirajamlah. Selanjutnya beliau s.a.w. menyembahyangi jenazahnya. Umar berkata pada beliau: “Apakah Tuan menyembahyangi jenazahnya, ya Rasulullah, sedangkan ia telah berzina?” Beliau s.a.w. bersabda: “Ia telah bertaubat benar-benar, andaikata taubatnya itu dibagikan kepada tujuhpuluh orang dari penduduk Madinah, pasti masih mencukupi. Adakah pernah engkau menemukan seorang yang lebih utama dari orang yang suka mendermakan jiwanya semata-mata karena mencari keridhaan Allah ‘Azzawajalla.” (Riwayat Muslim)

Kisah taubat seseorang yang membunuh 100 orang

Dari Abu Said, yaitu Sa’ad bin Sinan al-Khudri r.a. bahwasanya Nabiyullah s.a.w. bersabda: “Ada seorang lelaki dari golongan umat yang sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, lalu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. Iapun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah masih diterima untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: “Tidak dapat.” Kemudian pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia telah menyempurnakan jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi itu.

Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya. Orang alim itu menjawab: “Ya, masih dapat. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke tanah begini-begini, sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang sama menyembah Allah Ta’ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk.” Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat kerahmatan dan malaikat siksaan (yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas memberikan siksa), malaikat kerahmatan berkata: “Orang ini telah datang untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala.” Malaikat siksaan berkata: “Bahwasanya orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikitpun.” Selanjutnya ada seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni dijadikan hakim pemutusnya -untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata: “Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya- maksudnya jikalau lebih dekat ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya, maka ia adalah milik malaikat kerahmatan dan jikalau lebih dekat dengan bumi asalnya maka ia adalah milik malaikat siksaan.” Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab itu maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan demikian: “Orang tersebut lebih dekat sejauh sejengkal saja pada pedesaan yang baik itu- yakni yang hendak didatangi, maka dijadikanlah ia termasuk golongan penduduknya.” Dalam riwayat lain yang shahih pula disebutkan: Allah Ta’ala lalu mewahyukan kepada tanah yang ini -tempat asalnya- supaya engkau menjauh dan kepada tanah yang ini -tempat yang hendak dituju- supaya engkau mendekat -maksudnya supaya tanah asalnya itu memanjang sehingga kalau diukur akan menjadi jauh, sedang tanah yang dituju itu menyusut sehingga kalau diukur menjadi dekat jaraknya. Kemudian firmanNya: “Ukurlah antara keduanya.” Malaikat-malaikat itu mendapatkannya bahwa kepada yang ini -yang dituju- adalah lebih dekat sejauh sejengkal saja jaraknya. Maka orang itupun diampunilah dosa-dosanya.” Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Orang tersebut bergerak -amat susah payah karena hendak mati- dengan dadanya ke arah tempat yang dituju itu.”

Kisah tiga orang terkurung dalam gua

Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik. Seorang dari mereka itu berkata: “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu -yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya sayapun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, anak-anak kecil sama menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua. Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak paman wanita -jadi sepupu wanita- yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia -dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita- kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperoleh kesukaran. Iapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus duapuluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku -maksudnya berhubungan intim. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya -dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk diantara kedua kakinya- sepupuku itu lalu berkata: “Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin -maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini- melainkan dengan haknya -yakni dengan perkawinan yang sah-, lalu sayapun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya. Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itupun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu lalu membuka lagi dan merekapun keluar dari gua itu. (Muttafaq ‘alaih)

Keterangan:

Ada beberapa kandungan yang penting-penting dalam hadits di atas, yaitu:

  1. Kita disunnahkan berdoa kepada Allah di kala kita sedang dalam keadaan yang sulit, misalnya mendapatkan malapetaka, kekurangan rezeki dalam kehidupan, sedang sakit dan lain-lain.

  2. Kita disunnahkan bertawassul dengan amal perbuatan kita sendiri yang shalih, agar kesulitan itu segera lenyap dan diganti dengan kelapangan oleh Allah Ta’ala. Bertawassul artinya membuat perantaraan dengan amal shalih itu, agar permohonan kita dikabulkan olehNya. Bertawassul dengan cara seperti ini tidak ada seorang ulamapun yang tidak membolehkan. Jadi beliau-beliau itu sependapat tentang bolehnya. Juga tidak diperselisihkan oleh para alim-ulama perihal bolehnya bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh Sayidina Umar r.a. dengan bertawassul kepada Sayidina Abbas, agar hujan segera diturunkan. Yang diperselisihkan ialah jikalau kita bertawassul dengan orang-orang shalih yang sudah wafat, maksudnya kita memohonkan sesuatu kepada Allah Ta’ala dengan perantaraan beliau-beliau yang sudah di dalam kubur agar ikut membantu memohonkan supaya doa kita dikabulkan. Sebagian alim-ulama ada yang membolehkan dan sebagian lagi tidak membolehkan. Jadi bukan orang-orang shalih itu yang dimohoni, tetapi yang dimohoni tetap Allah Ta’ala jua, tetapi beliau-beliau dimohon untuk ikut membantu mendoakan saja. Kalau yang dimohoni itu orang-orang yang sudah mati, sekalipun bagaimana juga shalihnya, semua alim-ulama Islam sependapat bahwa perbuatan sedemikian itu haram hukumnya. Sebab hal itu termasuk syirik atau menyekutukan sesuatu dengan Allah Ta’ala yang Maha Kuasa Mengabulkan segala permohonan. Namun demikian hal-hal seperti di atas hanya merupakan soal-soal furu’iyah (bukan akidah pokok), maka jangan hendaknya menyebabkan retaknya persatuan kita kaum Muslimin.

SHALAT DHUHA

Shalat Dhuha yaitu Shalat sunnat dua raka’at atau lebihyang dikerjakan ketika setelah matahari terbit dan naik setinggi tumbak sampai sebelum matahari ditengah ( jam 07.00 – 11.00) dengan tujuan memohon rizki kepada Allah SWT sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.

TATA CARA SHALAT DHUHA

Kerjakan dua raka’at-dua raka’at kemudian salam sebagaimana shalat yang lain. Do’a boleh dilakukan ketika dalam posisi sujud, boleh dilakukan setelah shalat.

DO’A SHALAT DHUHA

Allaa hum ma, in nadh dhuhaa-a dhuhaa uka, wal bahaa-a bahaa uka, wal jamaa la jamaa luka, wal quw wata quw watuka, wal qud rata qudratuka, wal ishmata ishmatuka, Al laa hum ma in kaana rizqii, fis samaa-i fa anzilhu, wa in kaana fil ardli fa akhrijhu, wa in kaana mu’siran fa yas sirhu, wa in kaana kharaa man fa thah hirhu, wa in kaana ba’ii dan fa qar rib hu, bi haq qi dhuhaa ika wa bahaa ika, wa jamaa lika, wa quw watika, wa qud ratika, aa tinii maa ataita ‘ibaa dakash shaalihiin

SHALAT GERHANA

Shalat Gerhana ada 2 macam :

A. Gerhana Bulan yaitu shalat sunnat gerhana yang dilakukan ketika terjadi gerhana bulan, yang dimulai sejak awal terjadinya gerhana. Shalat Sunnat Gerhana Bulan disebut dengan Shalat Sunnat Khusuf.

B. Gerhana Matahari yaitu shalat sunnat gerhana yang dilakukan ketika terjadi gerhana Matahari, yang diawali ketika terjadi gerhana Matahari. Shalat Sunnat Gerhana Matahari disebut juga dengan Shalat Sunnat Kusuf

            Hukum Shalat Sunnat Khusuf dan Kusuf adalah Sunnah (Tuntunan Rasul )

TATA CARA SHALAT GERHANA

  1.  Takbir dengan niat shalat Gerhana,membaca Al-Fatihah,Surat Pendek kemudian ruku’, kemudian berdiri kembali membaca Al-Fatihah   dan Surat Pendek kemudian ruku’lagi,kemudian       sujud dua kali. Untuk raka’at kedua sama raka’at pertama. Jadi Shalat Gerhana ini dua raka’at dengan empat kali, empat kali berdiri,empat kalimembaca Al Fatihah dan empat kali sujud.
  2. Sekurang-kurangnya dua raka’at sebagaimana shalat sunnat lainnya.
  3. Cara yang lain boleh dengan berdirinya lama dan membaca surat yang panjang   dan ruku’nya lama.
  4. Bacaan Shalat Sunnat Gerhana dengan nyaring(keras), sebagian ulama yang dikeraskan shalat gerhana bulan
  5. Disunnatkan setelah Shalat Gerhana dilanjutkan dengan Khutbah (masalah yang ada, taubat,beramal shaleh dan berdo’a meminta ampun).