Menunggu keputusan jurnal setelah mengirim naskah memang bisa terasa lama. Bulan pertama masih tenang, bulan kedua mulai bertanya-tanya, dan bulan ketiga muncul keinginan untuk mencoba peruntungan di tempat lain. Akhirnya, sebagian penulis mengirim naskah yang sama ke dua atau tiga jurnal sekaligus dengan harapan salah satunya merespons lebih cepat. Kelihatannya seperti cara cerdas menghemat waktu, padahal kebiasaan ini termasuk pelanggaran etika publikasi yang paling sering disalahpahami.
Apa Itu Pengiriman Naskah Ganda?
Pengiriman naskah ganda (duplicate submission) adalah mengirimkan naskah yang sama, atau isinya hampir sama, ke lebih dari satu jurnal dalam waktu bersamaan tanpa sepengetahuan para editor. Praktik ini berbeda dengan mengirim ulang naskah setelah mendapat penolakan resmi dari jurnal pertama, yang justru wajar dan lazim dilakukan. Perbedaannya terletak pada waktu: apakah naskah masih sedang diproses oleh jurnal lain, atau sudah benar-benar bebas dari komitmen sebelumnya. Selama proses review masih berjalan, naskah itu dianggap sedang “dimiliki” oleh jurnal yang memprosesnya.
Prinsip yang sama berlaku meskipun naskahnya tidak benar-benar identik. Mengubah sedikit judul, merapikan urutan bab, atau menulis ulang sebagian isi lalu mengirimkannya ke jurnal berbeda tetap dianggap pelanggaran selama inti penelitiannya sama dan editor tidak mengetahuinya. Bahkan memecah satu penelitian menjadi beberapa artikel tipis yang isinya saling tumpang tindih — yang dikenal sebagai salami slicing — juga termasuk praktik yang dihindari dalam etika publikasi.
Mengapa Banyak Penulis Tergoda Melakukannya
Godaan ini muncul dari hal-hal yang sangat manusiawi: tenggat pengumpulan karya ilmiah yang mendekat, target kenaikan pangkat atau kelulusan, pengalaman buruk dengan proses review yang lambat, hingga ketakutan naskah ditolak. Ketika semua tekanan itu menumpuk, mengirim naskah ke beberapa jurnal sekaligus terasa seperti cara paling realistis untuk mengamankan publikasi. Sayangnya, cara ini menyelesaikan masalah jangka pendek dengan menciptakan masalah jangka panjang yang jauh lebih besar — baik bagi penulis maupun bagi jurnal yang terlibat.
Risiko-risiko berikut bukan sekadar ancaman kosong. Editor jurnal sering saling berbagi informasi, dan sistem pelacakan naskah modern membuat jejak pengiriman ganda semakin mudah ditemukan.
Risiko yang Mengintai Penulis dan Jurnal
- Naskah berisiko langsung ditolak. Editor dan reviewer yang menemukan bahwa naskah yang sama sedang diproses di jurnal lain umumnya menghentikan proses tanpa banyak diskusi.
- Waktu reviewer terbuang percuma. Reviewer adalah sumber daya yang langka. Meminta mereka menilai naskah yang sedang dipertimbangkan jurnal lain berarti mencuri waktu yang seharusnya digunakan untuk naskah lain yang layak.
- Kredibilitas penulis dipertaruhkan. Nama penulis tercatat di sistem, dan jejak pengiriman ganda bisa memengaruhi penilaian editor pada pengajuan-pengajuan berikutnya.
- Artikel bisa terbit dua kali dan berujung pada retraksi. Jika kedua jurnal sama-sama menerima, dampaknya tidak berhenti pada penghapusan artikel. Retraksi adalah catatan etik yang permanen dan ikut menurunkan kepercayaan terhadap penulis.
- Berisiko dilaporkan ke lembaga etika publikasi. Jurnal berhak melaporkan kasus ini ke COPE (Committee on Publication Ethics), dan penulis berisiko masuk daftar yang diwaspadai banyak penerbit.
Cara Terbaik: Satu Naskah, Satu Jurnal
Pendekatan yang sehat justru sederhana: pilih jurnal dengan teliti sejak awal, lalu kirim naskah ke satu jurnal dan beri proses itu kesempatan. Memilih jurnal yang benar-benar cocok dengan ruang lingkup dan gaya penulisannya adalah setengah dari pekerjaan — termasuk memastikan jurnal tersebut kredibel dan bukan jurnal predator. Menyisihkan waktu untuk memilih dengan cermat jauh lebih efisien daripada mengirim ke banyak jurnal sekaligus lalu menghadapi kekacauan di kemudian hari.
Kalau naskah akhirnya ditolak, itu bukan akhir dunia — penolakan adalah bagian normal dari dunia publikasi. Setelah mendapat penolakan resmi, penulis bebas mengirim naskah ke jurnal lain, bahkan bisa sekaligus memperbaiki bagian yang menjadi catatan reviewer. Jika penulis memutuskan mundur karena alasan pribadi, lakukan penarikan resmi dengan memberi tahu editor terlebih dahulu sebelum mengirim naskah ke tempat lain. Prinsipnya sederhana: satu naskah hanya boleh berada di satu meja editorial pada waktu yang sama.
Selagi menunggu, penulis tidak perlu berdiam diri. Manfaatkan waktu untuk menyelesaikan penelitian lain, merapikan data, atau menyiapkan naskah berikutnya — tanpa mengirim naskah yang sama ke tempat lain. Menunggu dengan sabar sambil tetap produktif adalah bagian dari profesionalisme akademik yang dihargai banyak editor.
Peran Pengelola Jurnal dalam Mencegahnya
Di sisi pengelola, pencegahan terbaik adalah kebijakan yang jelas dan komunikasi yang hangat. Jurnal yang sehat mencantumkan larangan pengiriman ganda di panduan penulis, menjelaskan alurnya di halaman kebijakan, dan tidak membuat penulis merasa dibiarkan gelisah menunggu tanpa kabar. Kejelasan jadwal dan kabar perkembangan proses review yang rutin — walau hanya singkat — mampu menurunkan keinginan penulis untuk mencoba jurnal lain. Komunikasi redaksi yang efektif adalah kunci dari semuanya.
Editor juga perlu menyikapi pelanggaran dengan bijak. Kasus pertama yang tidak disengaja bisa ditangani dengan penjelasan dan peringatan, sementara pelanggaran berulang memerlukan tindakan tegas. Tujuannya bukan menghukum, melainkan menjaga kepercayaan yang menjadi fondasi seluruh proses ilmiah. Penulis pun sebaiknya membiasakan diri membaca kebijakan jurnal dan memanfaatkan layanan seperti Think. Check. Submit. sebelum memutuskan ke mana naskah akan dikirim.
Menutup dengan Disiplin Kecil
Etika publikasi sering terasa seperti aturan yang membatasi, padahal sebenarnya ia melindungi semua pihak — penulis, reviewer, editor, dan pembaca. Dengan disiplin satu naskah untuk satu jurnal, penulis ikut menjaga kualitas ekosistem ilmiah, dan jurnal pun bisa menjalankan proses review dengan adil. Disiplin ini sejalan dengan etika penulis artikel jurnal secara menyeluruh, dari penentuan nama penulis hingga cara naskah diperlakukan dengan hormat.
Jurnal yang dikelola dengan rapi dan ramah akan membuat penulis merasa nyaman menunggu — itulah standar layanan yang semestinya dijaga setiap pengelola jurnal. Jika pengelolaan jurnal di kampus Anda membutuhkan pendampingan agar proses editorial berjalan tertib dan penulis merasa dihargai, Sangu Ilmu siap membantu mewujudkannya.
Tinggalkan Balasan