Setiap jurnal perlu menjawab satu pertanyaan sebelum naskah pertama masuk: selama proses review, siapa tahu identitas siapa? Pertanyaan itu terdengar administratif, tetapi menentukan cara reviewer menilai, seberapa leluasa mereka berkomentar, dan seberapa besar kepercayaan penulis pada keputusan redaksi.
Banyak jurnal kampus menjalankan model tertentu hanya karena warisan pengelola sebelumnya, tanpa pernah dibahas ulang. Padahal pilihan ini layak diputuskan secara sadar dan, yang tak kalah penting, dinyatakan terbuka kepada penulis dan reviewer. Ulasan berikut merangkum model review yang umum dipakai, kelebihan beserta harganya, dan cara memilih yang masuk akal untuk jurnal Anda — semuanya dari sisi kebijakan, bukan pengaturan teknis.
Tiga Hal yang Sebenarnya Sedang Dipilih
Saat orang menyebut single-blind atau double-blind, yang sedang dibahas sebenarnya tiga hal yang bisa diatur secara terpisah. Pertama, apakah reviewer tahu identitas penulis? Kedua, apakah penulis tahu identitas reviewer? Ketiga, apakah laporan review akan bisa dibaca publik setelah artikel terbit?
Karena ketiganya bisa dikombinasikan, praktik di lapangan sering lebih beragam daripada tiga label yang biasa kita sebut. Menyadari hal ini membantu redaksi memilih dengan sadar, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.
Single-Blind: Reviewer Tahu, Penulis Tidak
Dalam model ini reviewer melihat nama dan afiliasi penulis, sementara penulis tidak tahu siapa yang menilainya. Model ini paling ringan dijalankan karena redaksi tidak perlu menyamarkan identitas naskah.
Sisi baiknya, reviewer dapat menempatkan naskah dalam konteks: apakah penulis sudah merujuk karya sebelumnya, apakah klaim kebaruannya masuk akal, dan bagaimana posisi tulisan itu dalam percakapan bidang terkait. Bidang dengan komunitas kecil juga lebih nyaman dengan cara ini karena jumlah ahli yang benar-benar menguasai topik sangat terbatas.
Risikonya cukup jelas: penilaian mudah terpengaruh reputasi. Naskah dari penulis terkenal atau institusi besar cenderung disambut lebih ramah, dan sebaliknya. Penulis pemula bisa merasa dinilai bukan karena isi tulisannya, melainkan karena namanya belum dikenal.
Double-Blind: Kedua Belah Pihak Tidak Saling Tahu
Model ini berupaya menumpukan penilaian pada isi naskah. Nama, afiliasi, dan biasanya ucapan terima kasih serta keterangan pendanaan disamarkan agar identitas tidak mudah tertebak.
Keuntungan utamanya adalah rasa keadilan. Penulis dari kampus yang belum dikenal, mahasiswa, atau peneliti di awal karier lebih terlindungi dari prasangka berbasis nama dan institusi. Tidak mengherankan bila banyak penulis menjadikan double-blind sebagai pertimbangan saat memilih jurnal tujuan.
Harga yang harus dibayar adalah disiplin. Penyamaran perlu dijaga sejak naskah masuk sampai komunikasi dengan reviewer. Jika penulis menyebut nama laboratorium atau lokasi penelitiannya secara terperinci, identitasnya bisa tetap tertebak — dan di titik itulah janji double-blind mulai goyah.
Ada pula kerugian kecil yang jarang dibicarakan: reviewer kadang sulit mengarahkan penulis ke karya yang paling relevan karena tidak bisa merujuk tulisannya sendiri dengan gamblang, sehingga saran revisi terasa lebih umum.
Open Review dan Transparent Review: Ketika Nama Disebut
Varian ini membuka sebagian atau seluruh identitas dalam proses review. Penulis dapat mengetahui siapa reviewernya, atau laporan review dan tanggapan penulis dipublikasikan bersama artikel yang terbit. Pembahasan sistematis mengenai ragam model terbuka ini pernah dirangkum dalam tinjauan Ross-Hellauer (F1000Research).
Kekuatannya adalah transparansi. Komentar yang akan dibaca publik cenderung lebih terjaga mutunya, dan reviewer memperoleh pengakuan atas pekerjaan yang biasanya tak terlihat. Untuk jurnal yang sedang membangun kepercayaan, keterbukaan semacam ini menarik.
Tantangannya praktis: tidak semua reviewer bersedia dinilai secara terbuka, terutama di lingkungan kerja yang hierarkinya ketat atau pada bidang dengan komunitas kecil. Model ini juga menuntut kesepakatan sejak awal, sebab mengubah aturan di tengah proses akan terasa mengganggu bagi semua pihak.
Tidak Ada Model yang Paling Benar
Pertanyaan yang lebih berguna bukan “model mana yang terbaik”, melainkan “model mana yang benar-benar bisa kami jalankan”. Jurnal yang mengumumkan double-blind lalu membiarkan identitas penulis terbaca di mana-mana akan lebih merusak kepercayaan daripada jurnal yang jujur memakai single-blind.
Karena itu, kejelasan menjadi kunci. Model review sebaiknya tercantum di panduan penulis, disebut ketika mengundang reviewer, dan dijelaskan singkat pada halaman tentang jurnal yang bisa dibaca siapa saja. Penulis dan reviewer berhak tahu aturan permainannya sebelum mereka masuk.
Lima Pertanyaan Sebelum Memutuskan
Sebelum menetapkan pilihan — atau meninjaunya kembali — redaksi dapat berdiskusi dengan lima pertanyaan berikut.
- Siapa yang paling berisiko dirugikan oleh model yang kami pakai sekarang: penulis muda, mahasiswa, atau dosen dari kampus yang belum dikenal?
- Seberapa besar kapasitas admin dan redaksi untuk benar-benar menjaga penyamaran pada naskah double-blind?
- Seberapa kecil bidang kami? Jika hanya ada belasan ahli yang sungguh relevan, menjaga identitas akan jauh lebih sulit.
- Apakah para reviewer kami, terutama yang senior, bersedia menilai dengan nama terbuka?
- Apa praktik yang lazim di komunitas bidang kami dan apa yang diharapkan lembaga pengindeks?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu biasanya sudah menunjukkan satu arah yang paling masuk akal, tanpa perlu memaksakan model yang paling ideal di atas kertas.
Empat Kesalahan yang Sering Terjadi
- Mengumumkan double-blind tanpa benar-benar menjaga penyamaran. Janji di panduan penulis harus sesuai dengan praktik harian.
- Tidak memberi tahu reviewer model yang dipakai. Reviewer yang memahami aturannya akan menulis komentar dengan cara yang berbeda.
- Mengubah model di tengah proses untuk naskah yang sedang berjalan. Selesaikan naskah yang sudah di tangan dengan aturan lama, lalu terapkan aturan baru pada naskah berikutnya.
- Menganggap model otomatis menghilangkan bias. Anonimitas membantu, tetapi mutu keputusan tetap ditentukan oleh pertanyaan review yang tajam, rubrik yang jelas, dan pelatihan reviewer.
Model Hanya Satu Bagian dari Alur Review
Terlepas dari model yang dipilih, mutu proses review lebih banyak ditentukan hal-hal yang bisa diperbaiki tanpa menyentuh sistem: kejelasan pertanyaan untuk reviewer, penggunaan rubrik penilaian, ketepatan waktu, dan cara redaksi menjaga nada komunikasi. Pembaca yang ingin memahami proses ini dari sisi penulis bisa membaca alur review setelah naskah dikirim.
Prinsip keadilan, kerahasiaan, dan ketepatan waktu bagi penilai sudah dibahas pada artikel tentang etika reviewer jurnal. Semuanya pada akhirnya berpijak pada satu dokumen: kebijakan editorial yang menyatakan aturan main redaksi secara tertulis, termasuk model review yang dipilih. Acuan internasional yang sering dipakai untuk pembagian tanggung jawab dalam review dapat dilihat pada rekomendasi ICMJE.
Mulai dari Kebijakan yang Jujur
Menentukan model review tidak memerlukan perubahan teknis apa pun. Yang diperlukan hanya keputusan yang disepakati di internal redaksi dan satu paragraf jelas di panduan penulis. Kalau jurnal Anda sedang merapikan kebijakan redaksi agar lebih siap dinilai — termasuk memastikan prosedur review selaras dengan apa yang Anda janjikan kepada penulis — layanan pendampingan dan kustomisasi jurnal online dari Sangu Ilmu bisa menjadi salah satu pilihan untuk berdiskusi.