Daftar Isi 9
Artikel

Menanggapi Komentar Reviewer: Menyusun Respons yang Santun dan Meyakinkan

Naya Jurnal Ilmiah
Ilustrasi penulis menyusun respons atas komentar reviewer pada naskah jurnal ilmiah

Menerima review dari penilai jurnal memang bisa terasa menegangkan. Setelah menunggu cukup lama, komentarnya panjang, ada yang terasa tajam, dan sebagian tampak membingungkan. Padahal bagi banyak penulis, cara kita menyusun respons atas komentar itu justru sangat menentukan bagaimana editor menilai keseriusan kita. Artikel ini membahas kebiasaan sederhana yang membuat proses itu terasa lebih ringan dan hasilnya lebih baik.

Kebiasaan Pertama: Membaca dan Sikap Terbuka

Langkah pertama adalah membaca dengan sabar, bukan langsung membalas dalam hati. Baca komentar satu atau dua kali, lalu petakan isinya: mana permintaan revisi yang wajib, mana saran perbaikan, dan mana pertanyaan yang hanya butuh konfirmasi. Dengan memetakan isi komentar, kita tahu bagian mana yang benar-benar mengubah isi naskah dan mana yang cukup jawaban singkat. Pola yang hampir sama berlaku untuk memahami alur review di jurnal ilmiah secara umum.

Menanggapi komentar bukan berarti menerima semua pendapat begitu saja, tetapi juga bukan berarti melihat komentar sebagai serangan pribadi. Tugas kita adalah menyaring masukan, menimbangnya sesuai data yang kita miliki, dan menjaga sikap terbuka. Banyak penulis merasa komentar itu justru membantu melihat sisi naskah yang selama ini terlewat. Sikap terbuka sejak awal hampir selalu membuat tahap revisi berjalan lebih tenang.

Menjawab Komentar Per Poin

Salah satu cara paling rapi adalah menjawab komentar per poin. Buat daftar sederhana yang memuat kolom komentar, tanggapan penulis, dan keterangan tempat perubahan sudah dilakukan di naskah. Tampilan seperti ini sangat membantu reviewer mencocokkan setiap perbaikan dengan setiap komentar. Itu juga menunjukkan bahwa kita benar-benar membaca masukan mereka. Menyusun respons yang runtut adalah bagian dari komunikasi redaksi yang profesional.

Menjelaskan Saran yang Tidak Diikuti

Untuk saran yang terpaksa tidak atau tidak seutuhnya diikuti, sampaikan alasannya dengan jelas dan sopan. Menjelaskan misalnya bahwa data atau ruang lingkup penelitian tidak mendukung saran itu akan lebih mudah diterima daripada penolakan tanpa alasan, selama bahasanya tetap menghargai. Penolakan yang disertai bukti dan nalar yang terbuka justru menunjukkan kedalaman berpikir kita.

Menjaga Bahasa yang Santun dan Hormat

Bahasa menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sapa reviewer dengan hormat, gunakan kalimat yang menghargai, dan beri nomor per poin agar mudah dirujuk. Kalau kita berbeda pendapat, tunjuk tempat di naskah yang menjadi bukti, bukan hanya pernyataan. Respons yang emosional dan reaktif biasanya memperlambat proses serta memberi kesan kurang baik kepada editor.

Bagi pengelola jurnal, pola respons yang santun dan runtut juga sangat berguna. Editor bisa menjadikannya contoh untuk panduan singkat bagi penulis, sehingga seluruh proses terasa lebih transparan. Nilai layanan jurnal tidak selalu tampak dari halaman paling depan, tetapi justru terasa ketika komunikasi antara penulis, editor, dan reviewer berjalan mulus.

Intinya, komentar reviewer adalah bagian yang wajar dari perjalanan naskah menuju terbit. Semakin tenang kita membaca, semakin runtut respons per poin, dan semakin jelas penjelasan untuk setiap saran, semakin besar peluang naskah sampai dalam versi terbaiknya. Tidak ada artikel yang lahir sempurna dalam sekali jalan; yang membedakan adalah bagaimana kita menanggapinya dengan baik, santun, dan tertib.

Kesalahan Umum Saat Menanggapi Komentar

Banyak penulis yang secara tidak sadar melakukan kesalahan umum saat menanggapi komentar. Ada yang menjawab hanya dengan “sudah diperbaiki” tanpa menunjukkan di bagian mana perbaikannya. Ada juga yang menulis respons panjang bertele-tele tanpa memetakan per poin, sehingga reviewer kesulitan mengikuti. Tidak sedikit pula yang memutuskan mengirim ulang naskah tanpa rekap perubahan, padahal rekap singkat justru menjadi bukti bahwa setiap masukan benar-benar diperhatikan. Kebiasaan kecil inilah yang sering membedakan respons yang dianggap profesional dari yang sekadar asal balas.

Menjaga Tenggat Waktu Revisi

Satu hal yang juga perlu dijaga adalah tenggat waktu revisi. Jika merasa butuh waktu lebih dari yang diminta editor, lebih baik memberi tahu lebih awal daripada membiarkan tenggat lewat dalam diam. Komunikasi yang jujur tentang jadwal revisi akan membuat editor maupun reviewer memahami situasi kita. Ini bagian dari membangun hubungan yang sehat dalam proses penerbitan, bukan hanya sekadar mengejar agar naskah segera diterima.

Periksa Ulang Sebelum Mengirim

Sebelum mengirim respons, ada baiknya melakukan pemeriksaan singkat. Pastikan setiap komentar sudah dijawab, setiap perubahan sudah ditandai di naskah, dan penjelasan untuk saran yang tidak diikuti sudah tertulis dengan sopan. Baca sekali lagi respons dengan kepala dingin, seolah-olah kita adalah reviewer yang menerima jawaban itu. Respons yang bersih dan rapi menunjukkan bahwa kita menghargai waktu orang-orang yang telah membantu memperbaiki tulisan kita.

Dengan sedikit ketertiban seperti di atas, menanggapi komentar tidak lagi terasa seperti cobaan, melainkan seperti tahap perbaikan yang tertata. Tulis respons per poin, tawarkan alasan yang jelas, jaga bahasa yang santun, dan hormati tenggat waktu. Pembaca yang baru memulai proses publikasi bisa menyimak beberapa artikel terkait di akhir tulisan ini sebagai referensi tambahan.

Sikap dalam Proses Penilaian yang Anonim

Membuka respons dengan sambutan yang menghormati akan langsung mengesankan hal yang baik. Kalimat pembuka seperti “terima kasih atas masukan yang membangun untuk naskah kami” terasa jauh lebih hangat dibandingkan langsung menyusun daftar perbaikan tanpa sambutan. Penutup yang singkat, misalnya menyampaikan kesediaan memperbaiki lagi jika ada hal yang kurang jelas, ikut menutup proses secara rapi dan sopan.

Perlu diingat juga bahwa pada banyak jurnal penilaian dilakukan secara anonim atau terkontrol, sehingga penulis biasanya tidak mengetahui siapa reviewer-nya. Hindari komentar berbasa-basi yang terkesan memihak dan jangan pernah berspekulasi tentang identitas penilai. Tulis respons dengan nada yang tetap profesional untuk siapa pun pembacanya, kepada satu reviewer maupun beberapa orang sekaligus, agar proses berjalan adil dan nyaman untuk semua pihak.

Kesimpulan

Artikel terkait yang bisa dibaca di Sangu Ilmu: Etika Penulis Artikel Jurnal, Komunikasi Redaksi Jurnal, dan Sebelum Mengirim Naskah ke Jurnal. Semoga bermanfaat untuk menanggapi komentar reviewer dengan lebih meyakinkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *