Mengirim naskah ke jurnal ilmiah adalah momen yang menegangkan sekaligus membanggakan. Setelah riset selesai dan tulisan dirapikan, harapannya tentu naskah diterima dan diproses. Namun, di banyak jurnal, tidak sedikit naskah yang dikembalikan ke penulis di tahap awal — bukan karena kualitas risetnya buruk, melainkan karena kesalahan kecil yang sebenarnya mudah dicek sebelum dikirim. Kabar baiknya, sebagian besar kesalahan ini bisa dihindari dengan kebiasaan yang sederhana. Berikut enam hal yang paling sering menjadi penyebab naskah dikembalikan, lengkap dengan cara menghindarinya. Bagi penulis yang baru pertama kali mengirim artikel, memahami hal-hal ini juga membuat perjalanan menuju publikasi terasa lebih ringan.
1. Tidak mencocokkan naskah dengan fokus dan ruang lingkup jurnal
Kesalahan paling umum adalah mengirim naskah ke jurnal yang bidangnya tidak sesuai. Setiap jurnal memiliki fokus dan ruang lingkup yang dijelaskan di laman utamanya. Sebelum mengirim, sempatkan membaca bagian tersebut dan bandingkan dengan isi naskah. Jika topik artikel berada di luar fokus jurnal, editor biasanya akan mengembalikannya tanpa proses review yang panjang — bukan karena artikelnya jelek, tetapi karena memang tidak cocok. Memahami identitas dan fokus jurnal sebelum mengirim adalah langkah awal yang sering dilupakan penulis, padahal ini yang paling mudah dicek terlebih dahulu.
2. Mengabaikan petunjuk penulis
Petunjuk penulis (author guidelines) adalah peta bagi setiap penulis. Di sanalah dijelaskan format naskah, struktur, panjang abstrak, cara menulis referensi, hingga bahasa yang digunakan. Naskah yang tidak mengikuti petunjuk membuat editor dan reviewer bekerja lebih keras, dan kesan pertama pun menjadi kurang baik — seolah penulis tidak sungguh-sungguh ingin diterbitkan di jurnal tersebut. Urusan bahasa juga penting: beberapa jurnal menerima bahasa Indonesia, Inggris, atau keduanya. Membaca kebijakan bahasa jurnal sejak awal akan menghemat banyak waktu persiapan.
3. Surat pengantar yang asal-asalan
Surat pengantar (cover letter) sering dianggap remeh, padahal ini kesempatan pertama penulis berbicara langsung dengan editor. Surat yang baik tidak perlu panjang: cukup perkenalan singkat, alasan naskah ini sesuai dengan jurnal, dan kontribusi utamanya bagi bidang ilmu. Hindari menyalin abstrak bulat-bulat atau mengirim surat yang sama untuk semua jurnal — editor bisa langsung mengetahui. Surat yang jujur dan ringkas menunjukkan keseriusan penulis sejak awal dan membantu editor memahami nilai artikel sebelum membacanya secara utuh. Editor membaca banyak surat pengantar setiap pekan, sehingga surat yang spesifik akan lebih mudah diingat.
4. Naskah dan data pendukung yang belum lengkap
Beberapa naskah dikembalikan hanya karena kelengkapan: file pendukung tidak disertakan, data mentah tidak dijelaskan, atau pernyataan etik yang diminta belum dilampirkan. Sebelum mengirim, buat daftar hal yang diminta jurnal — dari berkas utama hingga lampiran — dan pastikan semuanya siap. Konsistensi format antarbagian juga sering terlewat, misalnya cara penulisan tabel, gambar, atau daftar pustaka yang tidak seragam. Kekurangan kecil di awal biasanya berujung pada bolak-balik komunikasi yang menyita waktu penulis dan redaksi, padahal semua bisa dicek dalam beberapa menit.
5. Tidak memeriksa kemiripan teks dan keutuhan etika
Cek kemiripan teks (similarity) sebelum mengirim bukan sekadar formalitas. Ini cara penulis memastikan tulisannya orisinal dan kutipannya ditulis dengan benar. Di samping itu, pastikan penentuan penulis sudah disepakati semua pihak dan naskah tidak sedang dikirim ke jurnal lain. Dua hal ini termasuk etika publikasi yang sangat dijaga editor dan reviewer, sejalan dengan standar internasional seperti yang dirumuskan Committee on Publication Ethics (COPE). Penjelasan tentang siapa yang layak menjadi penulis bisa dibaca di artikel Etika Penulis Artikel Jurnal, sementara risiko mengirim satu naskah ke banyak jurnal sekaligus dibahas pada artikel Satu Naskah, Satu Jurnal.
6. Menghilang saat diminta revisi
Naskah yang sudah melewati review dan diminta revisi adalah kabar baik — artinya editor masih melihat potensi di artikel Anda. Sayangnya, tidak sedikit penulis yang justru lama merespons atau bahkan menghilang. Padahal kemampuan merespons revisi dengan rapi, tepat waktu, dan sopan adalah bagian dari kesan profesional. Jika ada kendala, sampaikan saja ke redaksi; komunikasi yang terbuka justru dihargai. Ingatlah bahwa tujuan revisi bukan memperumit pekerjaan, melainkan membuat artikel menjadi lebih baik. Cara membangun komunikasi yang profesional dengan redaksi jurnal bisa menjadi bahan bacaan yang berguna.
Kebiasaan kecil, kesan besar
Pada akhirnya, editor dan reviewer ingin membaca naskah yang baik — dan naskah yang baik dimulai dari persiapan yang rapi. Sebelum mengirim, periksa sekali lagi:
- Fokus dan ruang lingkup jurnal sesuai dengan isi naskah.
- Petunjuk penulis diikuti, termasuk aturan bahasa dan referensi.
- Surat pengantar ditulis khusus untuk jurnal tersebut.
- Berkas utama dan data pendukung lengkap serta formatnya konsisten.
- Kemiripan teks sudah diperiksa dan penentuan penulis disepakati.
- Siap merespons revisi dengan tepat waktu.
Kebiasaan ini juga membantu penulis, terutama yang baru pertama kali mengirim artikel, merasa lebih percaya diri. Bagi pengelola jurnal, membantu penulis memahami hal-hal di atas adalah bagian dari mutu layanan: jurnal yang ramah sejak naskah pertama masuk akan lebih mudah membangun kepercayaan penulis dan reviewer. Menyiapkan kebijakan penerimaan naskah yang jelas dan mudah dipahami adalah salah satu fondasi pengelolaan jurnal yang sehat — dan fondasi itulah yang juga menentukan kenyamanan semua pihak yang terlibat, dari penulis, editor, reviewer, hingga pembaca.
Tinggalkan Balasan