Preprint adalah naskah ilmiah yang diunggah ke server terbuka sebelum atau selama proses telaah di jurnal, sehingga dapat dibaca publik tanpa menunggu terbit. Bagi dosen dan peneliti Indonesia, praktik ini makin sering dibicarakan, tetapi banyak yang ragu: apakah jurnal akan menolak naskah yang sudah pernah diunggah? Artikel ini membantu Anda menimbang untung dan ruginya dengan tenang.
Apa yang dimaksud dengan preprint
Menurut dokumen diskusi COPE tentang preprint, preprint merupakan bentuk publikasi yang memungkinkan artikel yang belum ditelaah sejawat tersebar cepat dan luas, biasanya di bawah lisensi akses terbuka dan tanpa biaya bagi penulis. Kata kuncinya ada pada “belum ditelaah sejawat”. Preprint belum melewati penilaian reviewer, sehingga statusnya berbeda dari artikel yang sudah terbit di jurnal.
Di Indonesia, RINarxiv adalah arsip preprint berbasis komunitas untuk riset Indonesia. Menurut halaman pengumumannya, arsip ini dijalankan Komunitas Sains Terbuka Indonesia dengan dukungan BRIN dan memakai perangkat lunak Open Preprint Systems (OPS) dari Public Knowledge Project, kerabat dekat OJS yang bersifat gratis dan bersumber terbuka.
Keuntungan mengunggah preprint
Dokumen COPE menyebut beberapa manfaat, antara lain penyebaran temuan yang lebih cepat, penegasan bahwa gagasan Anda sudah tercatat lebih dahulu, dan kemudahan bagi editor menemukan karya yang akan datang. Dari sisi praktis, preprint juga membuka peluang masukan dari kolega sebelum naskah dikirim ke jurnal.
Preprint punya tanggal unggah yang jelas sehingga menjadi catatan waktu bagi karya Anda. Bagi peneliti muda yang naskahnya harus menunggu lama di meja redaksi, ini cara sederhana agar hasil kerja tidak sepenuhnya tersimpan di laci.
Risiko dan batasan yang perlu disadari
COPE juga mencatat tantangannya: kekhawatiran gagasan “didahului” orang lain, perlunya penyaringan oleh pengelola server, dan soal kredibilitas riset yang belum ditelaah. Pembaca awam bisa saja menganggap preprint sebagai temuan final. Karena itu, hindari klaim berlebihan dalam naskah yang Anda unggah, dan jangan pernah menjadikannya dasar keputusan penting di bidang kesehatan.
Ada pula soal identitas. Preprint memuat nama penulis, padahal sebagian jurnal memakai telaah buta ganda. Periksa dulu kebijakan jurnal tujuan agar tidak menimbulkan kebingungan saat proses penelaahan.
Salah kaprah yang sering muncul
Kekeliruan pertama adalah menyamakan preprint dengan artikel terbit. Karena belum ditelaah sejawat, sebutkan statusnya apa adanya ketika Anda membagikannya di media sosial atau mencantumkannya pada profil. Jangan menuliskannya seolah-olah sudah dimuat di jurnal bereputasi.
Kekeliruan kedua adalah mengira preprint selalu diterima sebagai luaran penelitian. Ketentuan setiap kampus, lembaga pendana, dan jurnal berbeda-beda, jadi periksa aturan institusi Anda sebelum mencantumkannya dalam laporan kinerja.
Kekeliruan ketiga adalah mengunggah naskah yang belum disepakati semua penulis. Persetujuan bersama tetap wajib, sama seperti saat mengirim ke jurnal, termasuk kesepakatan mengenai urutan nama.
Apa kata jurnal tentang naskah yang pernah diunggah
COPE menyarankan editor dan penerbit menyusun kebijakan preprint dan memuatnya dalam panduan penulis serta formulir pengiriman. Ringkasan dari panduan CASRAI untuk editor (yang menegaskan bahwa isinya tafsiran, bukan teks resmi COPE) menyebut bahwa unggahan ke server preprint yang dikenal tidak otomatis dianggap publikasi sebelumnya. Intinya adalah keterbukaan: preprint yang dilaporkan jujur berbeda secara etika dari naskah ganda yang disembunyikan.
Meski begitu, aturan setiap jurnal bisa berbeda. Ada yang menerima dengan senang hati, ada yang membatasi. Jangan berasumsi; bacalah kebijakannya atau tanyakan langsung kepada redaksi.
Langkah praktis sebelum mengunggah preprint
- Baca panduan penulis jurnal tujuan dan cari ketentuan tentang preprint atau publikasi sebelumnya.
- Pilih server preprint yang dikelola jelas, misalnya arsip komunitas yang memiliki kebijakan moderasi.
- Pastikan semua penulis sepakat dan hak atas gambar, tabel, serta data sudah aman; lihat pula pembahasan lisensi Creative Commons.
- Cantumkan keterangan preprint dan tautannya pada surat pengantar atau kolom yang tersedia saat mengirim naskah.
- Setelah naskah terbit, tautkan preprint ke versi terbitnya agar pembaca tidak keliru memilih versi.
Langkah-langkah ini terdengar sederhana, tetapi justru kebiasaan kecil seperti inilah yang menjaga reputasi Anda. Redaksi jurnal umumnya lebih tenang ketika penulis berterus terang sejak awal, dan pembaca pun lebih mudah menelusuri perkembangan sebuah naskah dari versi awal hingga versi akhir yang sudah ditelaah.
Kaitannya dengan etika dan visibilitas jurnal
Pengunggahan preprint tidak membenarkan pengiriman ke banyak jurnal sekaligus; risiko itu sudah dibahas pada artikel satu naskah, satu jurnal. Preprint juga bukan pengganti telaah sejawat, sebagaimana tergambar pada perjalanan naskah di jurnal. Bagi pengelola jurnal, menyusun kebijakan similarity yang menjelaskan perlakuan terhadap preprint akan mencegah salah paham, dan semangat keterbukaannya sejalan dengan akses terbuka untuk jurnal kampus.
Jika Anda mengelola jurnal dengan OJS dan ingin menambahkan kolom isian atau halaman kebijakan semacam ini, Anda dapat berkonsultasi lewat layanan kostumisasi OJS Sangu Ilmu.
Penutup
Preprint adalah alat, bukan jalan pintas. Digunakan dengan jujur dan terbuka, ia mempercepat pertukaran gagasan tanpa merusak kepercayaan pada jurnal. Mulailah dari satu langkah kecil: baca kebijakan jurnal tujuan Anda minggu ini, lalu putuskan apakah preprint cocok untuk naskah berikutnya.
Tinggalkan Balasan